PLTU Rembang Dapat Pendanaan US$ 261 juta dari Barclays



JAKARTA. Beruntunglah PT PLN (Persero). Ditengah seretnya kucuran kredit dari perbankan dalam negeri akibat krisis global, bank asal Inggris Barclays Bank Plc berkomitmen membiayai pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Rembang, Jawa Tengah senilai US$ 261 juta. Kepastian kucuran dana bakal diberikan oleh Barclays sudah diterima perusahaan listrik pelat merah itu sejak pekan lalu. Bahkan menurut Direktur Utama PLN Fahmi Mochtar, Departemen Keuangan (Depkeu) selaku pihak yang memiliki otoritas untuk menyetujui pinjaman dari luar negeri sudah memberikan lampu hijaunya sejak bulan lalu. "Rencananya dua minggu lagi penandatanganannya akan dilakukan," ujar Fahmi, Selasa (11/11). Asal tahu saja, PLTU Rembang merupakan bagian dari proyek 10.000 MW tahap I. Proyek pembangkit berkapasitas 2 x 315 MW ini akan dikerjakan oleh konsorsium Zelan - Primanaya - Tronoh. Konsorsium ini sudah menandatangani kontrak Engineering, Procurement, Construction (EPC) dengan PLN pada 21 Maret 2007 lalu. Bahkan, pada 20 September tahun lalu sudah dilakukan pemancangan tiang pertamanya. PLN memperkirakan total investasi yang dibutuhkan untuk membangun PLTU Rembang sebesar US$ 338,8 juta dalam bentuk valas serta dalam rupiah sebanyak Rp 3,61 triliun yang equivalent dengan Rp 6,82 triliun. Untuk skenario awal pendanaan yang dulu disiapkan adalah, PLN membiayai sebanyak 15% melalui global bond dan export credit sedangkan 85% lainnya didanai melalui pinjaman langsung ke bank Cina, namun nyatanya bank asal Inggris juga tertarik membiayai. Pembangkit ini diperkirakan menyedot batubara sebanyak 1,9 juta ton per tahun. Target penyelesaian unit I diharapkan selesai pada September 2009 dan unit II-nya di bulan Desember 2009. Sebelumnya, PLN masih kesulitan mencari pembiayaan proyek 10.000 MW sampai sebesar US$ 3 miliar dan Rp 4 triliun. Dengan diperolehnya komitmen pembiayaan dari Barclays, maka sisa pinjaman yang perlu dicari lagi oleh PLN sebesar US$ 2,7 miliar. PLN menurut Fahmi tidak hanya getol mencari pembiayaan ke China maupun negara-negara Eropa. Tetapi juga rajin menjajaki beberapa alternatif pembiayaan syariah dari perbankan dan lembaga keuangan asal Timur Tengah yang salah satunya berada di Qatar. "Proposal pendanaan sudah kami kirim, targetnya sih kita bisa dapat sampai US$ 2 miliar dari sana," kata Fahmi. 
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News