KONTAN.CO.ID - Perdana Menteri (PM) China Li Qiang, pejabat nomor dua di negeri itu, meninjau fasilitas tanah jarang (rare earth) di Provinsi Jiangxi, China selatan, Rabu (11/2/2026). Kunjungan tersebut dimanfaatkan untuk memberi sinyal tentang menguatnya persaingan strategis dengan Amerika Serikat dalam perebutan mineral penting.
Baca Juga: Dolar AS Terpuruk 9% Setahun: Ada Apa dengan Mata Uang Paling Kuat Dunia? Menurut laporan kantor berita resmi Xinhua, inspeksi menjelang libur Tahun Baru Imlek ini secara tradisional menjadi momen bagi para pemimpin puncak China untuk menyampaikan arah kebijakan. Pernyataan Li kali ini secara halus menegaskan bagaimana akses terhadap komponen krusial yang digunakan mulai dari industri otomotif hingga ponsel pintar kini menjadi alat tawar utama Beijing dalam hubungannya dengan Washington. Tanah jarang juga merupakan material penting dalam industri persenjataan. “Nilai penting tanah jarang dalam pengembangan manufaktur canggih serta mendorong transformasi hijau dan rendah karbon semakin menonjol,” ujar Li, dikutip Xinhua.
Baca Juga: Google Terbitkan Obligasi 100 Tahun, Fenomena Langka Sejak 1997 Pernyataan ini dipandang sebagai rujukan tidak langsung pada gejolak industri tahun lalu, ketika China memperketat kontrol ekspor tanah jarang setelah AS memperketat pembatasan investasi China di wilayahnya. “Perlu mendorong integrasi mendalam antara industri, akademisi, riset, dan penerapan, serta memperluas penggunaan teknologi tanah jarang,” tambah Li. Para analis menilai AS dan China kini terlibat dalam kontestasi jangka panjang untuk menjamin akses terhadap mineral kritis. Beijing berpotensi memperoleh pengaruh baru dalam pengambilan keputusan korporasi global jika benar-benar menerapkan regulasi yang mewajibkan perusahaan melaporkan penggunaan tanah jarang asal China, meskipun hanya dalam jumlah kecil, kepada Kementerian Perdagangan China.
Baca Juga: Goldman Sachs Peringatkan Potensi Aksi Jual Saham US$ 80 Miliar, Kripto Terancam? Dalam pernyataannya, Li tidak secara eksplisit menyebut Amerika Serikat (AS). Ia juga mengunjungi sebuah institut riset di bawah Chinese Academy of Sciences, serta sejumlah perusahaan yang terlibat dalam rantai produksi tanah jarang, meski tidak dirinci namanya. Sementara itu, di pihak AS, Wakil Presiden JD Vance pekan lalu mengumumkan rencana untuk menggalang sekutu dalam blok perdagangan preferensial mineral kritis, termasuk usulan penetapan batas bawah harga bersama, sebagai bagian dari eskalasi strategi Washington dalam menghadapi dominasi China di sektor tersebut.