PM Israel Netanyahu Akui Sulit Pengaruhi Trump soal Negosiasi Iran



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dikabarkan mengakui secara pribadi bahwa negaranya memiliki kemampuan terbatas untuk memengaruhi keputusan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump terkait negosiasi dengan Iran.

Pengakuan tersebut disampaikan Netanyahu dalam percakapan tertutup dengan sejumlah orang kepercayaannya, menurut dua pejabat Israel yang mengetahui langsung pembicaraan tersebut.

Baca Juga: Ferrari Luncurkan Mobil Listrik Pertama “Luce”, Taruhan Baru di Era EV Premium


Komentar Netanyahu muncul di tengah minimnya keterlibatan Israel dalam proses negosiasi awal antara AS dan Iran guna menghentikan konflik yang telah berlangsung hampir tiga bulan. Konflik tersebut bermula dari serangan gabungan AS dan Israel terhadap Iran.

Baik Washington maupun Teheran sejauh ini sama-sama meredam ekspektasi tercapainya terobosan cepat dalam perundingan.

Kedua negara masih berselisih mengenai sejumlah isu utama, termasuk program nuklir Iran, tuntutan pencabutan sanksi ekonomi, hingga konflik Israel dengan kelompok Hezbollah di Lebanon.

Netanyahu juga disebut tetap menuntut hak Israel untuk melanjutkan operasi militer terhadap ancaman yang dianggap membahayakan keamanan negaranya, termasuk di Lebanon.

Baca Juga: Hadapi Efek Krisis Timur Tengah, Jepang Siapkan Anggaran Tambahan 3 Triliun Yen

Sikap tersebut dinilai berpotensi menghambat kesepakatan jika Iran meminta penghentian penuh operasi militer Israel di Lebanon selatan.

Salah satu pejabat Israel mengatakan Netanyahu secara pribadi menyampaikan kekhawatiran terhadap memorandum of understanding (MoU) yang tengah dinegosiasikan AS dan Iran.

Berdasarkan rancangan kesepakatan tersebut, Iran disebut akan membuka kembali Selat Hormuz sebagai imbalan atas pencabutan blokade laut AS terhadap kapal-kapal Iran.

Setelah itu, negosiasi lanjutan mengenai isu nuklir akan dilakukan melalui mediasi Pakistan.

Baca Juga: Iran dan AS Kompak Redam Ekspektasi Kesepakatan Damai dalam Waktu Dekat

Sumber Iran sebelumnya mengatakan kepada Reuters bahwa pada tahap selanjutnya dimungkinkan adanya “formula yang realistis” untuk menyelesaikan sengketa stok uranium Iran yang diperkaya tinggi, termasuk melalui pengenceran material di bawah pengawasan badan nuklir PBB.

Meski isu utama terkait program nuklir Iran belum sepenuhnya terjawab, Netanyahu disebut menyadari bahwa Israel “tidak memiliki ruang manuver untuk memengaruhi presiden AS saat ini”.

Kantor Netanyahu belum memberikan komentar resmi terkait laporan tersebut.

Dalam sepekan terakhir, Trump dan Netanyahu diketahui telah berbicara melalui sambungan telepon sedikitnya tiga kali.

Baca Juga: UPDATE-Dolar AS Melemah di Tengah Optimisme Kesepakatan Pembukaan Selat Hormuz

Pada periode yang sama, pejabat Israel menyebut negaranya juga sempat mempersiapkan kemungkinan serangan udara lanjutan bersama AS terhadap Iran, khususnya yang menyasar infrastruktur energi.

Usai percakapan pertama pada Selasa malam, Trump bahkan sempat melontarkan komentar kepada wartawan terkait Netanyahu.

“Dia orang yang sangat baik, dia akan melakukan apa pun yang saya inginkan,” ujar Trump.

Trump dan Netanyahu kembali berbicara pada Jumat malam dan Sabtu, setelah Trump melakukan pembicaraan bersama para pemimpin negara Teluk, Turki, dan Pakistan terkait perkembangan negosiasi Iran.

Baca Juga: Nikkei Cetak Rekor di 65.000, Optimisme Damai Iran Bawa Lonjakan Saham Jepang

Setelah percakapan terakhir tersebut, Netanyahu akhirnya menyatakan secara terbuka bahwa dirinya dan Trump membahas memorandum pembukaan kembali Selat Hormuz serta negosiasi menuju kesepakatan final terkait program nuklir Iran.

Netanyahu mengatakan dirinya dan Trump sepakat bahwa setiap kesepakatan akhir harus mencakup pembongkaran fasilitas pengayaan uranium Iran dan pengeluaran material uranium yang diperkaya dari wilayah Iran.

Ia juga menyebut Trump kembali menegaskan hak Israel untuk mempertahankan diri terhadap ancaman di berbagai front, termasuk Lebanon.

Kesepakatan potensial ini muncul di tengah tekanan politik terhadap Netanyahu menjelang pemilu nasional Israel yang diperkirakan sulit dimenangkannya.

Lawan politiknya menilai Netanyahu gagal mencapai target perang yang sebelumnya diumumkan pemerintah Israel.

Baca Juga: Bank Sentral Singapura Gandeng Industri, Permudah Aplikasi Rekening Bank Swasta

Pada awal konflik 28 Februari lalu, Netanyahu menyatakan Israel menargetkan penggulingan pemerintahan Iran, penghancuran kemampuan nuklir dan rudal balistik Iran, serta melemahkan pengaruh Teheran di kawasan.

Namun, sejak itu fokus AS dan Israel mulai berbeda. Washington kini lebih menitikberatkan pada pembukaan kembali Selat Hormuz yang sebelumnya menjadi jalur sekitar seperlima pengiriman minyak dan gas alam cair dunia.

Dalam wawancara dengan CBS awal bulan ini, Netanyahu menegaskan masih banyak hal yang harus dilakukan untuk memastikan uranium Iran keluar dari negara tersebut serta menghentikan dukungan Iran terhadap kelompok proksi di kawasan.