PM Takaici Temui Presiden Trump, Jepang Borong Minyak dari AS: Amankan Energi



KONTAN.CO.ID - TOKYO - Jepang mulai membuka opsi baru dalam menjaga ketahanan energinya. Dalam kunjungan ke Amerika Serikat pada Kamis, 19 Maret, Perdana Menteri Sanae Takaichi mengungkap rencana yang cukup strategis: menimbun minyak mentah asal AS di dalam negeri.

Langkah ini bukan tanpa alasan. Jepang tengah berupaya keras mendiversifikasi sumber energi sekaligus mengurangi ketergantungan yang selama ini sangat besar pada kawasan Timur Tengah. Apalagi, situasi global yang memanas belakangan ini membuat pasokan energi menjadi semakin rentan.

Baca Juga: Eropa dan Jepang Akan Ikut Amankan Selat Hormuz, Harga Minyak Turun


Sebelum mengambil langkah ini, Jepang sebenarnya sudah memiliki cadangan minyak yang sangat besar. Negara tersebut menyimpan sekitar 470 juta barel minyak, setara dengan kebutuhan selama 254 hari. Bahkan, dalam beberapa waktu terakhir, Jepang telah melakukan pelepasan cadangan minyak strategis dalam jumlah rekor untuk meredam dampak gangguan pasokan dari Timur Tengah dan lonjakan harga energi.

Mesra! Kunjungi White House, PM Takaichi Sanae Sebut Donald Trump Juru Damai
© 2026 Konten oleh Kontan
Namun, rencana untuk menyimpan minyak dari Amerika Serikat membuka babak baru. Hingga kini, belum ada kejelasan apakah minyak tersebut akan masuk ke dalam cadangan strategis Jepang atau justru menjadi stok yang bisa digunakan oleh Amerika Serikat dalam kondisi tertentu.

Dalam pernyataannya kepada wartawan, Takaichi menegaskan bahwa Jepang dan AS juga sepakat untuk memperluas kerja sama di sektor energi, termasuk meningkatkan produksi energi di Amerika. Saat ini, Jepang memang sudah mulai mengandalkan pasokan dari AS, meski porsinya masih relatif kecil—sekitar 4% untuk minyak dan 6% untuk gas alam cair.

Baca Juga: Trump Puji Jepang Aktif Soal Iran, Sindir NATO dalam Pertemuan dengan PM Takaichi

Ia juga menekankan bahwa proyek penimbunan minyak ini merupakan bagian dari visi jangka panjang. Tujuannya jelas: menciptakan pasokan energi yang lebih stabil, tidak hanya untuk Jepang, tetapi juga bagi kawasan Asia secara keseluruhan.

Di sisi lain, Jepang sebenarnya telah memiliki cadangan minyak bersama dengan negara-negara Timur Tengah seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Kuwait, dengan total sekitar 13 juta barel. Cadangan ini memberi Jepang hak prioritas untuk menggunakannya saat dibutuhkan.

Meski begitu, ketergantungan Jepang terhadap Timur Tengah masih sangat tinggi—lebih dari 90% pasokan minyaknya berasal dari kawasan tersebut. Ketika jalur vital seperti Selat Hormuz terganggu, dampaknya langsung terasa. Berbagai sektor industri, mulai dari baja, petrokimia, hingga fasilitas publik seperti pemandian umum, ikut terdampak akibat lonjakan harga dan keterbatasan pasokan.

Tonton: Harga Minyak Tembus US$ 108: Serangan Ladang Gas Iran Picu Krisis Energi Global

Dalam konteks global, Jepang juga memainkan peran besar. Dalam pelepasan cadangan minyak yang dikoordinasikan oleh International Energy Agency, kontribusi Jepang mencapai hampir 80 juta barel—menjadikannya yang terbesar kedua setelah Amerika Serikat yang menyumbang 172 juta barel. Menariknya, cadangan minyak Jepang yang dimiliki bersama negara-negara Timur Tengah tidak ikut digunakan dalam skema ini.

Kunjungan Takaichi ke AS juga menghasilkan kesepakatan yang lebih luas. Jepang berkomitmen menggelontorkan investasi hingga 73 miliar dolar AS untuk proyek energi di Amerika. Selain itu, kedua negara juga menyusun rencana kerja sama untuk mengembangkan alternatif rantai pasok mineral penting dan unsur tanah jarang, sebagai upaya mengurangi ketergantungan pada China.

Langkah-langkah ini menunjukkan satu hal: di tengah ketidakpastian global, energi bukan lagi sekadar kebutuhan, tetapi juga soal strategi dan keamanan nasional. Jepang tampaknya tidak ingin lagi bergantung pada satu sumber—dan kini mulai menata ulang peta energinya dengan lebih hati-hati dan terukur.