PM Thailand Pastikan Pemerintahan Baru Terbentuk Pekan Depan



KONTAN.CO.ID - BANGKOK. Perdana Menteri Thailand, Anutin Charnvirakul, menyatakan pada Sabtu (28/3/2026) bahwa Thailand diperkirakan akan memiliki pemerintahan baru pekan depan. Daftar anggota kabinet baru dijadwalkan diajukan untuk persetujuan kerajaan pada Senin mendatang.

Dalam konferensi pers, Anutin mengatakan pemerintah baru akan segera menyampaikan pernyataan kebijakan ke parlemen agar bisa mulai bekerja. 

Pernyataan kebijakan tersebut diperkirakan berlangsung sekitar 7–9 April dan sebagian besar akan mengacu pada janji pemilu dari Partai Bhumjaithai, termasuk tahap berikutnya dari skema subsidi konsumen, kata Wakil Ketua Partai, Siripong Angkasakulkiat, kepada Reuters.


Anutin juga meminta maaf kepada publik atas gejolak harga minyak yang terjadi pada paruh pertama Maret. Pemerintah awalnya menahan harga minyak selama 15 hari untuk meringankan beban masyarakat. 

Baca Juga: Perundingan Damai Rusia–Ukraina Berlanjut di Jenewa Pekan Depan

Namun, seiring berlanjutnya perang di Timur Tengah, pemerintah menilai perlu mengambil langkah yang lebih tepat untuk mengurangi dampaknya.

Sebagai tindak lanjut, pemerintah menghentikan penetapan harga maksimum minyak dan berencana memangkas pajak minyak, serta menerapkan langkah-langkah dukungan lain untuk menahan dampak kenaikan harga minyak. 

Skema subsidi konsumen akan diluncurkan setelah pemerintahan baru resmi terbentuk, kata pejabat Kementerian Keuangan Lavaron Sangsnit.

Anutin menegaskan agar masyarakat tidak panik. Persediaan bahan bakar domestik masih cukup, dan berakhirnya penetapan harga maksimum tidak berarti harga minyak akan sepenuhnya mengambang, karena masih ada dukungan melalui dana subsidi minyak.

Baca Juga: PM Thailand Akan Teken Gencatan Senjata dengan Kamboja Disaksikan Trump di Malaysia

Saat ini Thailand memiliki cadangan minyak untuk 107 hari, dengan pengiriman tambahan dijadwalkan tiba pada April–Mei, menurut Menteri Energi Auttapol Rerkpiboon. Namun, dana minyak nasional sedang mengalami defisit sekitar 38 miliar baht (US$1,16 miliar).

Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Sihasak Phuangketkeow mengatakan kementeriannya telah menghubungi Brazil, Nigeria, Kazakhstan, dan Azerbaijan untuk memastikan pasokan minyak, dengan semua negara siap bekerja sama. 

Thailand juga berkoordinasi dengan Iran untuk memastikan keselamatan kapal-kapal Thailand melalui Selat Hormuz, dan sebuah kapal Thailand sudah berhasil melewatinya. 

Baca Juga: Dihantam Krisis Energi, PM Thailand Tinggalkan Rolls-Royce dan Beralih ke BYD

Koordinasi serupa sedang dilakukan untuk kapal milik perusahaan minyak besar Thailand, SCG Chemicals, dengan kapal lainnya menyusul.

Sementara itu, Kementerian Perdagangan terus memantau harga barang dan jasa untuk mencegah lonjakan harga yang berlebihan.