PMI-BI Kuartal IV 2025 Membaik, Ekonom Prediksi Kinerja Manufaktur Berpeluang Menguat



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede memproyeksikan kinerja sektor industri pengolahan atau manufaktur berpeluang membaik secara bertahap sepanjang 2026, seiring menguatnya aktivitas permintaan domestik dan perbaikan sisi pasokan.

Optimisme tersebut tercermin dari indeks Purchasing Managers’ Index Bank Indonesia (PMI-BI) yang menempatkan industri pengolahan tetap berada di zona ekspansi pada kuartal IV 2025 dan diprakirakan menguat pada kuartal I 2026.

“PMI-BI menunjukkan industri pengolahan tetap ekspansi di kuartal IV 2025 dan diperkirakan menguat pada kuartal I 2026. Sektor yang dekat dengan konsumsi domestik relatif punya ruang tumbuh ketika permintaan dalam negeri naik,” ujar Josua kepada Kontan, Senin (19/1/2026).


Menurut Josua, sektor-sektor manufaktur yang berorientasi pada kebutuhan harian dan rantai konsumsi domestik, seperti industri makanan dan minuman, tekstil dan alas kaki, serta industri terkait bahan bangunan, berpeluang mencatat pertumbuhan lebih baik pada 2026. Peningkatan konsumsi dalam negeri dinilai menjadi pendorong utama prospek tersebut.

Baca Juga: PMI Manufaktur RI Diproyeksi Tetap Ekspansif hingga Awal Kuartal I-2026

Di sisi lain, Josua mengingatkan bahwa tidak semua sektor memiliki prospek yang sama. Sektor yang sensitif terhadap faktor cuaca dan siklus komoditas, seperti pertambangan, masih perlu dicermati karena hingga kuartal IV 2025 masih berada dalam fase kontraksi.

Sementara sektor konstruksi diperkirakan cenderung stabil, namun sangat bergantung pada keberlanjutan proyek dan realisasi investasi swasta.

Lebih lanjut, Josua mencatat PMI-BI industri pengolahan pada kuartal IV 2025 meningkat ke level 51,86 dari 51,66 pada kuartal III 2025. Kenaikan ini menunjukkan perbaikan kondisi usaha dan tetap berada di zona ekspansi, meskipun belum sepenuhnya diikuti oleh peningkatan volume produksi secara signifikan.

“PMI-BI merupakan gabungan beberapa komponen. Saat pesanan menguat dan persediaan disiapkan, indeks utama bisa naik meskipun produksi fisik tidak bertambah besar,” jelasnya.

Baca Juga: PMI Manufaktur RI Kuat: Apindo Ingatkan Waspada pada 2026

Pada kuartal IV 2025, pesanan baru tercatat menguat, namun laju produksi justru sedikit lebih rendah dibandingkan kuartal sebelumnya. Menurut Josua, kondisi ini lazim terjadi ketika pelaku industri masih menahan produksi akibat keterbatasan bahan baku, penyesuaian biaya, atau kehati-hatian dalam menambah jam kerja.

Kendala tersebut juga tercermin dari komponen kecepatan penerimaan bahan baku yang masih berada di zona kontraksi, sehingga produksi belum mampu mengimbangi kenaikan pesanan secara optimal. 

Situasi ini sejalan dengan PMI manufaktur versi S&P Global yang menunjukkan perbaikan permintaan baru, namun kenaikan produksi masih terbatas akibat kelangkaan bahan baku dan keterlambatan pengiriman, sementara pesanan ekspor baru masih melemah.

Ke depan, Josua menilai prospek produksi manufaktur pada 2026 berpeluang membaik secara bertahap. Penguatan PMI-BI pada kuartal I 2026, perbaikan pasokan bahan baku, serta optimisme pelaku usaha terhadap kenaikan volume produksi dalam 12 bulan ke depan menjadi faktor pendukung utama.

“Kunci agar produksi benar-benar naik adalah kelancaran pasokan bahan baku, pengendalian biaya, dan kepastian iklim usaha agar perusahaan tidak terus menunda ekspansi kapasitas,” pungkas Josua.

Baca Juga: PMI Manufaktur Turun ke 51,2 di Desember 2025, Permintaan Domestik Jadi Penopang

Selanjutnya: Jerman dan Prancis Melawan, Siap Lawan Ancaman Tarif AS atas Greenland

Menarik Dibaca: Ramalan Zodiak Keuangan dan Karier Besok Selasa 20 Januari 2026, Utamakan Kolaborasi

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News