PMI Ekspansi Tapi Investasi Mandek, INDEF Ragukan Pemulihan Sektor Manufaktur



KONTAN.CO.ID-JAKARTA. Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur Indonesia pada Januari 2026 tercatat berada di level 52,6. 

Meski menunjukkan tren ekspansi selama enam bulan berturut-turut, Institute for Development of Economics and Finance (Indef) mengingatkan bahwa capaian ini belum cukup kuat untuk menyimpulkan bahwa sektor manufaktur nasional telah pulih secara struktural.

Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef, M Rizal Taufikurahman, menyatakan bahwa angka di atas ambang batas 50 memang memberi sinyal perbaikan aktivitas industri dan menandakan berakhirnya fase kontraksi. 


Baca Juga: Defisit Lapangan Kerja Formal, Apindo Harap Ekonomi Tumbuh 5,4% Jadi Penyelamat

Namun, ia menekankan bahwa karakteristik PMI lebih mencerminkan arah sentimen jangka pendek ketimbang kekuatan fundamental ekonomi.

"Kenaikan PMI banyak dipengaruhi oleh komponen pesanan baru dan ekspektasi produksi, yang dalam konteks awal tahun sangat mungkin terkait faktor musiman menjelang Ramadan dan lebaran," ujar Rizal kepada KONTAN, Senin (2/2/2026).

Menurut Rizal, pada periode ini industri makanan-minuman, tekstil, serta barang konsumsi cenderung memacu aktivitas produksinya untuk memenuhi lonjakan permintaan pasar dalam negeri. Inilah yang mendorong indeks ke zona ekspansi, namun sifatnya cenderung temporer.

Lebih lanjut, Rizal menyoroti bahwa penguatan manufaktur yang benar-benar solid seharusnya dibarengi dengan indikator pendukung lainnya secara merata. 

Hingga saat ini, INDEF menilai sinyal penguatan tersebut masih sangat terbatas.

"Jika manufaktur benar-benar kuat, biasanya kenaikan PMI diikuti oleh sinyal yang lebih merata, seperti peningkatan penyerapan tenaga kerja, ekspansi investasi, serta pertumbuhan output yang konsisten lintas subsektor," katanya.

Baca Juga: Red Notice Muhammad Riza Chalid Terbit, Polri Klaim Tim Sudah di Luar Negeri

Beberapa subsektor memang menunjukkan perbaikan, namun industri secara keseluruhan masih dibayangi oleh berbagai tantangan berat. Tekanan biaya produksi, fluktuasi nilai tukar rupiah, serta masih lemahnya permintaan global menjadi faktor penghambat bagi industri untuk tumbuh lebih akseleratif.

Dengan kondisi tersebut, Rizal menyarankan agar capaian PMI di atas level 50 selama setengah tahun terakhir dibaca sebagai tanda stabilisasi industri, bukan bukti bahwa manufaktur telah kembali menjadi mesin pertumbuhan ekonomi yang kuat.

Ia memprediksi bahwa selama dorongan utama industri masih bersifat musiman dan belum ditopang oleh investasi baru yang berkelanjutan, kontribusi sektor manufaktur terhadap pertumbuhan ekonomi nasional akan tetap berada di level moderat.

Selanjutnya: Defisit Lapangan Kerja Formal, Apindo Harap Ekonomi Tumbuh 5,4% Jadi Penyelamat

Menarik Dibaca: Ramalan Zodiak Keuangan dan Karier Besok Selasa 3 Februari 2026, Kendalikan Emosi

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News