PMI Jasa China Naik ke 54,4 pada Mei 2026, Permintaan Domestik dan Ekspor Menguat



KONTAN.CO.ID - Aktivitas sektor jasa China mencatat pertumbuhan tercepat dalam tiga bulan pada Mei 2026, didorong peningkatan bisnis baru dan pulihnya permintaan dari luar negeri.

Namun, kenaikan biaya operasional mulai memberikan tekanan terhadap pelaku usaha.

Baca Juga: Ekonomi Australia Melambat, Tumbuh 0,3% pada Kuartal I 2026


Melansir Reuters survei sektor swasta yang dirilis pada Rabu (3/6/2026) menunjukkan, indeks Purchasing Managers' Index (PMI) Jasa China yang disusun S&P Global naik menjadi 54,4 pada Mei dari 52,6 pada April.

Angka tersebut berada di atas level 50 yang menjadi batas antara ekspansi dan kontraksi, sekaligus menandai percepatan pertumbuhan aktivitas sektor jasa terbesar dalam tiga bulan terakhir.

Hasil survei ini sejalan dengan data resmi pemerintah China yang dirilis pada Minggu (31/5), yang menunjukkan aktivitas sektor jasa kembali berekspansi setelah sempat mengalami kontraksi pada April.

Meski demikian, kedua survei tersebut menggunakan sampel responden yang berbeda.

Baca Juga: Yen Tembus Level Kritis 160 per Dolar AS, Konflik Timur Tengah Perkuat Greenback

Peningkatan aktivitas jasa pada Mei terutama ditopang oleh pertumbuhan bisnis baru yang mencapai level tertinggi dalam tiga bulan terakhir.

Pelaku usaha melaporkan membaiknya permintaan pasar, inovasi bisnis, serta bertambahnya pelanggan baru sebagai faktor utama pendorong pertumbuhan.

Di saat yang sama, pesanan ekspor baru kembali tumbuh setelah mengalami kontraksi pada April.

Hal ini mengindikasikan adanya perbaikan permintaan dari pasar internasional terhadap layanan yang ditawarkan perusahaan-perusahaan China.

Meningkatnya volume pekerjaan juga mendorong perusahaan jasa kembali melakukan perekrutan tenaga kerja.

Survei menunjukkan sektor jasa China mencatat penambahan lapangan kerja untuk pertama kalinya dalam empat bulan terakhir guna memenuhi kenaikan pesanan yang belum terselesaikan.

Meski demikian, perusahaan menghadapi tekanan biaya yang semakin besar. Inflasi biaya input meningkat ke level tertinggi sejak Oktober 2024, dipicu kenaikan harga minyak dan bahan bakar, biaya pengadaan barang, serta upah tenaga kerja yang lebih tinggi.

Baca Juga: Harga Emas Melemah ke US$ 4.476 Rabu (3/6) di Tengah Memanasnya Konflik Timur Tengah

Kendati biaya operasional meningkat, pelaku usaha tetap optimistis terhadap prospek bisnis dalam 12 bulan ke depan. Kepercayaan bisnis masih berada di wilayah positif, didukung harapan membaiknya permintaan dan aktivitas ekonomi.

Sementara itu, Indeks Output Komposit China, yang menggabungkan aktivitas sektor manufaktur dan jasa, naik menjadi 54,0 pada Mei dari 53,1 pada April.

Kenaikan ini menunjukkan momentum pemulihan ekonomi China terus berlanjut di tengah berbagai tantangan global yang masih membayangi.