KONTAN.CO.ID - Aktivitas sektor jasa Jepang masih mencatatkan ekspansi pada Juli 2026, tetapi lajunya melambat seiring melemahnya permintaan dan tingginya tekanan biaya. Kondisi tersebut mendorong pelaku usaha menaikkan harga jual pada laju tercepat dalam lebih dari satu dekade. Mengutip
Reuters, Rabu (5/8/2026), survei S&P Global menunjukkan Japan Services Purchasing Managers' Index (PMI) final turun menjadi 51,2 pada Juli dari 52,2 pada Juni. Angka tersebut juga lebih rendah dibandingkan estimasi awal (flash) sebesar 51,9.
Baca Juga: Inflasi AS Terlalu Tinggi, Pejabat The Fed Ini Sebut Perlu Pengetatan Moneter Meski masih berada di atas level 50 yang menandakan ekspansi, capaian tersebut menjadi bulan kedua berturut-turut sektor jasa tumbuh dengan laju yang jauh lebih lambat dibandingkan awal 2026. Pertumbuhan bisnis baru (
new business) juga melambat ke level terendah dalam dua tahun. Sementara itu, permintaan dari luar negeri terhadap jasa Jepang turun untuk bulan keempat berturut-turut, meski laju penurunannya lebih ringan dibandingkan Mei dan Juni. Di sisi lain, tekanan biaya tetap tinggi. Harga input meningkat pada laju yang hanya sedikit lebih rendah dibandingkan rekor tertinggi dalam empat tahun yang tercatat pada Juni. Pelaku usaha menyebut inflasi yang dipicu konflik di Timur Tengah, kenaikan biaya tenaga kerja, serta pelemahan nilai tukar yen menjadi faktor utama yang mendorong kenaikan biaya operasional.
Baca Juga: The Fed Masih Waspadai Inflasi, Sinyal Kenaikan Suku Bunga Belum Mereda Untuk menjaga margin keuntungan, perusahaan jasa menaikkan harga jual dengan laju tercepat sejak April 2014, ketika kenaikan pajak konsumsi memicu lonjakan harga di berbagai sektor ritel. Volume pekerjaan yang belum terselesaikan (
backlog of work) juga masih meningkat, namun menjadi yang paling lambat dalam 17 bulan terakhir. Hal itu mengindikasikan tekanan kapasitas mulai mereda. Selain itu, pertumbuhan lapangan kerja dan tingkat kepercayaan pelaku usaha turut melambat dibandingkan bulan sebelumnya. Sementara itu, Composite PMI Jepang, yang menggabungkan sektor manufaktur dan jasa, relatif stabil di level 52,7 pada Juli, sedikit lebih rendah dari 52,8 pada Juni. Stabilnya indeks komposit ditopang oleh lonjakan output manufaktur yang mencapai level tertinggi sejak awal 2014, sehingga mampu mengimbangi perlambatan di sektor jasa.
Baca Juga: Pengangguran Selandia Baru Naik ke Level Tertinggi dalam Satu Dekade Associate Director Economics S&P Global Market Intelligence Annabel Fiddes mengatakan, tekanan inflasi biaya masih berlangsung di sektor manufaktur maupun jasa sehingga perusahaan terus terdorong menaikkan harga jual untuk melindungi margin keuntungan. "Dengan laju inflasi biaya yang masih tinggi di sektor manufaktur maupun jasa, perusahaan menghadapi tekanan untuk terus menaikkan harga demi menjaga margin," ujar Fiddes. Ia menambahkan, kondisi tersebut berpotensi mendorong inflasi resmi Jepang kembali meningkat dan memperbesar tekanan terhadap Bank of Japan (BoJ) untuk kembali menaikkan suku bunga acuannya dalam beberapa bulan mendatang.