KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Aktivitas manufaktur di kawasan Asia Tenggara kembali menguat pada awal kuartal III-2026 setelah sempat melambat pada kuartal sebelumnya. Peningkatan permintaan mendorong percepatan produksi, penambahan tenaga kerja, hingga meningkatnya aktivitas pembelian bahan baku di kawasan. Berdasarkan laporan S&P Global, Asean Manufacturing Purchasing Managers' Index (PMI) naik menjadi 52,8 pada Juli 2026 dari 50,5 pada Juni. Angka tersebut merupakan level tertinggi dalam lima bulan terakhir dan menunjukkan aktivitas manufaktur di kawasan terus berekspansi. S&P Global mencatat hampir seluruh dari tujuh negara yang dipantau membukukan perbaikan aktivitas manufaktur setelah melewati kuartal II 2026 yang relatif lemah. Hanya Myanmar yang masih mencatat penurunan kondisi operasional.
Baca Juga: BPS Mencatat Deflasi 0,14% Secara Bulanan Pada Juli 2026 Ekonom S&P Global Market Intelligence Maryam Baluch mengatakan, sektor manufaktur Asean mulai keluar dari fase perlambatan yang berlangsung sepanjang Maret hingga Juni, yang dipengaruhi dampak konflik di Timur Tengah. "Kinerja kini telah kembali ke tingkat yang setara dengan yang terlihat pada awal tahun, meskipun masih di bawah rekor yang tercatat pada bulan Februari," ujar Baluch dalam keterangannya, Senin (3/8/2026). Menurutnya, membaiknya permintaan menjadi faktor utama yang mendorong penguatan aktivitas manufaktur pada Juli. Hal itu tercermin dari pertumbuhan pesanan baru yang menjadi yang tercepat sejak Februari 2026, diikuti kenaikan produksi dengan laju paling tinggi dalam lima bulan terakhir. "Kondisi permintaan membaik pada bulan Juli, dengan pesanan baru meningkat secara signifikan dan produksi tumbuh secara solid sebagai respons terhadap peningkatan tersebut," katanya. Seiring meningkatnya permintaan, perusahaan manufaktur di kawasan juga meningkatkan pembelian bahan baku. Meski waktu pengiriman dari pemasok masih memanjang, produsen kembali menambah persediaan bahan baku untuk pertama kalinya dalam empat bulan. Di sisi ketenagakerjaan, perusahaan kembali melakukan perekrutan setelah empat bulan tidak menambah tenaga kerja. Namun, peningkatan kapasitas tersebut belum sepenuhnya mampu mengimbangi lonjakan aktivitas produksi. Alhasil, tunggakan pekerjaan (backlog) meningkat dengan laju tercepat sejak Oktober 2025.
Baca Juga: PMI Manufaktur RI Kembali Ekspansi pada Juli 2026, Pemulihan Sektor Industri Bertahap Baluch mengatakan, perusahaan merespons peningkatan permintaan dengan memperbesar kapasitas produksi melalui penambahan pembelian bahan baku dan perekrutan tenaga kerja. "Perusahaan juga terdorong untuk meningkatkan aktivitas pembelian dan menambah jumlah tenaga kerja untuk pertama kalinya dalam empat bulan," ujarnya.
Sementara itu, tekanan biaya produksi mulai menunjukkan tanda-tanda mereda setelah sempat meningkat tajam pada April. Kendati demikian, biaya input masih berada pada level yang relatif tinggi sehingga produsen tetap meneruskan sebagian kenaikan biaya tersebut kepada konsumen melalui penyesuaian harga jual. Meredanya tekanan biaya turut mendorong optimisme pelaku industri terhadap prospek usaha dalam 12 bulan ke depan. Tingkat keyakinan produsen bahkan meningkat ke level tertinggi sejak April 2023. "Sisi positif lainnya, tingkat keyakinan terhadap prospek produksi menguat ke level tertinggi dalam lebih dari tiga tahun. Selain itu, tekanan harga kembali mereda sehingga mengurangi hambatan terhadap sektor manufaktur di kawasan," pungkas Baluch. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News