PMI Manufaktur China Naik ke 52,1 pada September, Tertinggi Lima Bulan



KONTAN.CO.ID - Aktivitas manufaktur China mengalami ekspansi lebih cepat pada September 2026. Penguatan produksi dan pesanan baru, termasuk dari pasar ekspor, menunjukkan momentum pertumbuhan berbasis ekspor masih bertahan di paruh kedua tahun ini.

Melansir Reuters Rabu (30/9/2026), berdasarkan survei RatingDog China General Manufacturing Purchasing Managers' Index (PMI) yang disusun S&P Global, PMI manufaktur China naik menjadi 52,1 pada September dari 51,5 pada Agustus.

Baca Juga: Harga Minyak Brent Naik 14% September, Pasar Cermati Konflik AS-Iran


Angka tersebut menjadi level tertinggi dalam lima bulan sekaligus berada di atas level 50 yang memisahkan ekspansi dan kontraksi aktivitas manufaktur. Capaian ini juga melampaui proyeksi analis dalam jajak pendapat Reuters sebesar 51,6.

Kenaikan PMI menunjukkan permintaan eksternal masih menjadi penopang penting bagi perekonomian China.

Pasalnya, sektor properti masih mengalami tekanan berkepanjangan sementara konsumsi domestik belum sepenuhnya pulih.

Surplus perdagangan barang China juga diperkirakan kembali menembus US$1 triliun untuk tahun kedua berturut-turut.

Dari sisi aktivitas produksi, output manufaktur tumbuh pada laju tercepat sejak April. Sementara itu, total pesanan baru meningkat dengan laju tercepat dalam lima bulan.

Pesanan ekspor baru juga mencatat pertumbuhan tercepat dalam tujuh bulan. Sejumlah perusahaan dalam survei menyebut kondisi pasar yang lebih baik di sejumlah negara Asia menjadi salah satu pendorong peningkatan permintaan.

Baca Juga: Boeing Menang Kontrak US$20 Miliar untuk Jet Tempur Generasi Keenam AS

Tekanan kapasitas dan biaya meningkat

Penguatan aktivitas manufaktur mulai mendorong kebutuhan tenaga kerja. Perusahaan menambah jumlah pekerja sehingga pertumbuhan lapangan kerja kembali tercatat setelah stagnan pada level 50,0 pada Agustus.

Di sisi lain, tekanan biaya produksi meningkat. Harga input naik pada laju tercepat sejak Mei akibat kenaikan biaya bahan baku dan energi, terutama logam dan minyak.

Produsen kemudian menaikkan harga jual, meski kenaikannya masih tipis setelah harga jual sempat mengalami penurunan marginal pada Agustus.

Meski menghadapi kenaikan biaya, perusahaan manufaktur China tetap optimistis terhadap prospek produksi. Pelaku usaha memperkirakan output akan meningkat dalam 12 bulan mendatang.

Baca Juga: Bursa Australia Naik Tipis Rabu (30/9), Menanti Data Inflasi dan Arah Suku Bunga