KONTAN.CO.ID - BEIJING. Aktivitas pabrik di Tiongkok mengalami penurunan pada bulan Oktober, kontraksi ketiga dalam empat bulan terakhir menurut survei pemerintah yang dirilis pada hari Sabtu (31/10). Penurunan ini dipicu oleh lemahnya permintaan domestik terhadap barang, serta adanya tanda-tanda pelemahan dalam sektor ekspor. Para ekonom mendesak pemerintah untuk mengambil langkah lebih lanjut guna mendukung pertumbuhan ekonomi.
Baca Juga: Mesir Khawatir Eskalasi Perang AS-Iran Bakal Lebih Destruktif Data tersebut menyoroti bahwa sektor ekspor yang selama sebagian besar tahun ini menjadi motor penggerak utama mungkin tidak lagi cukup kuat untuk mengimbangi pengeluaran konsumen yang telah lama stagnan. "Permintaan yang tidak memadai meningkatkan tekanan penurunan terhadap perekonomian," ujar Zhang Liqun, seorang analis di China Federation of Logistics & Purchasing. Indeks manajer pembelian (PMI) manufaktur resmi turun menjadi 49,3 dari 50,1 pada bulan September, berdasarkan data dari Biro Statistik Nasional. Angka ini berada di bawah perkiraan sebesar 50,0 dalam jajak pendapat Reuters, meskipun bulan pertama dalam suatu kuartal memang biasanya merupakan periode yang paling lemah. Surplus perdagangan Tiongkok dengan dunia diperkirakan akan melampaui angka US$1,2 triliun yang tercatat tahun lalu, didorong oleh kuatnya kinerja ekspor. Namun, pada bulan Oktober, aktivitas pabrik melemah seiring dengan berkurangnya pesanan luar negeri untuk kebutuhan Natal yang sebagian besar telah dipesan lebih awal pada bulan September. Selain itu, aktivitas juga melambat karena pengeluaran konsumen yang sempat meningkat selama libur panjang Hari Nasional Tiongkok pada minggu pertama Oktober kembali mereda. Sub-indeks untuk pesanan baru secara keseluruhan maupun pesanan ekspor baru tetap berada di zona kontraksi pada bulan Oktober. Aktivitas produksi dan pengadaan barang juga bergeser dari fase ekspansi ke fase kontraksi.
Subsidi tambahan bisa membantu
Baca Juga: Dewan Keamanan PBB Gagalkan Resolusi AS dan Rusia soal Sahara Barat Zhang Zhiwei, kepala ekonom di Pinpoint Asset Management, menyatakan bahwa jika permintaan eksternal melemah pada tahun 2027, Tiongkok akan memerlukan dukungan kebijakan yang lebih signifikan untuk mendorong permintaan domestik. Lu Zhe, kepala ekonom di Soochow Securities, menyarankan perluasan subsidi untuk pembayaran bunga hipotek guna memperkuat kepercayaan rumah tangga dan menstabilkan sentimen pasar. Ia menambahkan bahwa pemberian subsidi untuk pembayaran bunga pinjaman pada proyek-proyek investasi juga dapat membantu mengatasi kekurangan investasi aset tetap yang layak saat ini. PMI non-manufaktur, yang mencakup sektor jasa dan konstruksi, juga mengalami penurunan dari 50,2 pada bulan September menjadi 49,7. Angka-angka tersebut disusun berdasarkan laporan dari para manajer pembelian mengenai apakah kondisi di berbagai bidang seperti pesanan baru, output, dan ketenagakerjaan mengalami perbaikan, memburuk, atau tidak berubah dibandingkan dengan bulan sebelumnya. Angka di atas 50 menandakan ekspansi, sementara angka di bawah 50 menunjukkan kontraksi. Beberapa sektor di dalam industri manufaktur menunjukkan kinerja yang baik. Survei tersebut menunjukkan bahwa sub-indeks untuk produksi dan pesanan baru di sektor perkeretaapian, pembuatan kapal, peralatan kedirgantaraan, serta manufaktur komputer, peralatan komunikasi, dan elektronik, semuanya berada di angka 53,0 atau lebih tinggi.
Perusahaan-perusahaan yang bergerak di bidang kecerdasan buatan (AI), khususnya, melaporkan pertumbuhan laba yang kuat. Zhongji Innolight, produsen modul optik berkecepatan tinggi yang menghubungkan server dan switch di pusat data AI, mencatatkan lonjakan laba bersih pada kuartal ketiga hingga hampir tiga kali lipat. Namun, pasar domestik yang lesu serta meningkatnya biaya telah membebani banyak perusahaan manufaktur konvensional dan perusahaan yang terkait dengan sektor properti. Sebagai contoh, produsen furnitur kustom Oppein Home mencatat penurunan laba bersih sebesar 80% pada kuartal tersebut. Meskipun demikian, ekonomi Tiongkok diperkirakan akan mampu mencapai target pertumbuhan tahunan sebesar 4,5–5,0% tanpa memerlukan langkah stimulus tambahan, menyusul pemulihan pertumbuhan pada kuartal ketiga yang mencapai 4,5%, naik dari 4,3% pada periode April–Juni.
Baca Juga: Peretas Korea Utara Dalangi Pembobolan Aset US$ 6,3 Miliar di Binance?