KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja industri manufaktur nasional sepanjang 2026 menghadapi sejumlah tekanan, mulai dari pelemahan daya beli domestik, volatilitas nilai tukar, hingga meningkatnya ketegangan geopolitik yang berdampak terhadap biaya energi dan rantai pasok. Kondisi tersebut tercermin dari pergerakan Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia yang beberapa kali masuk zona kontraksi sepanjang tahun ini. PMI Manufaktur Indonesia tercatat berada di level 49,1 pada April dan kembali turun ke 46,9 pada Juni. Pada Agustus, indeks yang dirilis S&P Global tersebut juga masih berada di zona kontraksi, yakni 49,8.
Baca Juga: BPS: Warga Miskin Lebih Banyak Habiskan Uang untuk Belanja Makanan Meski demikian, ekonom menilai pergerakan PMI Manufaktur bulanan tidak cukup untuk menjadi satu-satunya ukuran dalam menilai kinerja industri, termasuk periode kepemimpinan Agus Gumiwang Kartasasmita (AGK) sebagai Menteri Perindustrian. Direktur Eksekutif CORE Indonesia Mohammad Faisal mengatakan, penilaian terhadap kinerja manufaktur perlu melihat tren secara lebih panjang lantaran PMI cukup sensitif terhadap berbagai faktor yang terjadi dalam jangka pendek. “Pertama yang perlu dipahami adalah bahwa kita tidak bisa menilai kinerja industri manufaktur hanya dengan melihat PMI Manufaktur dalam satu bulan saja. Jadi, melihat tren secara keseluruhan, gitu,” ungkapnya, Senin (5/10/2026). Menurut Faisal, kontraksi pada satu bulan tidak serta-merta menunjukkan pelemahan struktural industri. Sebaliknya, PMI dapat kembali masuk zona ekspansi ketika tekanan temporer mulai mereda. Ia menambahkan, industri manufaktur masih menghadapi tekanan dari sisi eksternal. Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, misalnya, dapat meningkatkan biaya produksi bagi industri yang masih mengandalkan bahan baku maupun barang modal impor. Tekanan tersebut juga meningkat seiring gangguan rantai pasok akibat konflik di Timur Tengah. “Kenaikan harga energi karena harga minyak dunia yang mengalami peningkatan. Belum juga pelemahan nilai tukar rupiah yang mempengaruhi biaya produksi bagi industri yang bergantung pada suplai bahan baku maupun juga barang modal dari luar negeri,” jelasnya. Dari dalam negeri, pelemahan daya beli masyarakat, khususnya kelompok kelas menengah, turut menjadi tantangan bagi industri yang bergantung pada konsumsi domestik.
Baca Juga: BPS Ungkap Pengeluaran Pajak dan Asuransi Warga Indonesia Naik 6,4% Namun, PMI Manufaktur kembali menunjukkan perbaikan pada September 2026. Indeks naik ke level 52,4, atau kembali masuk zona ekspansi setelah dua bulan sebelumnya berada di bawah level 50. Faisal menilai perbaikan tersebut menjadi sinyal positif bagi aktivitas industri. Tantangan berikutnya adalah memastikan peningkatan aktivitas produksi tersebut ikut mendorong penyerapan tenaga kerja. “Terutama juga nanti kaitannya bagaimana dampak dari ekspansi ini terhadap penyerapan tenaga kerja,” katanya.
Industri Masih Bertahan
Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Esther Sri Astuti juga menilai ketahanan industri manufaktur perlu dilihat dalam konteks berbagai tekanan yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir. Menurut dia, industri manufaktur Indonesia memang belum sepenuhnya pulih, tetapi secara umum masih mampu mempertahankan aktivitas produksi di tengah berbagai tantangan. Hal tersebut tercermin dari PMI Manufaktur yang relatif sering berada di zona ekspansi setelah melewati periode pandemi Covid-19. “Tanpa pandemi saja, dengan berbagai faktor saat ini, industri manufaktur sulit bertahan pada zona ekspansi,” katanya. Esther mengatakan, sepanjang 2026 industri manufaktur harus menghadapi perlambatan ekonomi sejumlah negara mitra dagang serta meningkatnya ketegangan geopolitik. Meski demikian, PMI Manufaktur pada September kembali masuk zona ekspansi.
Baca Juga: BPS Ungkap Pengeluaran Pajak dan Asuransi Warga Indonesia Naik 6,4% “September kembali pada zona ekspansi, meski ada ketegangan geopolitik dan naiknya biaya input,” tukasnya. Kinerja manufaktur juga tidak hanya tercermin dari PMI. Industri pengolahan masih menjadi salah satu sektor penting dalam perekonomian nasional, termasuk dalam penyerapan tenaga kerja. Saat ini, sektor manufaktur menyerap sekitar 20,5 juta tenaga kerja. Di sisi lain, sejumlah kebijakan industri yang berjalan dalam beberapa tahun terakhir turut menjadi bagian dari upaya menjaga aktivitas manufaktur di tengah tekanan global. Dengan demikian, kinerja industri tidak hanya dipengaruhi oleh kebijakan dalam satu periode kepemimpinan, tetapi juga oleh kondisi ekonomi global dan domestik. PMI Manufaktur sendiri mengukur sejumlah komponen aktivitas industri, antara lain pesanan baru, output produksi, pengiriman pemasok, persediaan, hingga ketenagakerjaan. Karena itu, pergerakannya dapat dipengaruhi perubahan permintaan maupun gangguan pasokan dalam jangka pendek.
Sebagai pembanding, tekanan paling dalam terhadap PMI Manufaktur Indonesia terjadi pada awal pandemi Covid-19, ketika indeks sempat jatuh ke level 27,5. Setelah itu, aktivitas manufaktur Indonesia berangsur pulih dan relatif mampu mempertahankan kinerja dibandingkan sejumlah negara di kawasan ASEAN. Ketahanan sektor manufaktur juga tercermin dari kontribusinya terhadap nilai tambah industri di kawasan. Nilai tambah industri manufaktur Indonesia tercatat sekitar US$265 miliar dan menjadi salah satu yang terbesar di ASEAN. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News