KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja manufaktur Indonesia kembali tertinggal dibandingkan sejumlah negara Asia Tenggara pada Agustus 2026. Dari lima negara yang disurvei S&P Global, hanya Indonesia yang indeks manufakturnya kembali masuk zona kontraksi. Sebaliknya, Filipina mencatat pertumbuhan manufaktur paling kuat dengan Purchasing Managers’ Index (PMI) mencapai 54,9 pada Agustus 2026, naik signifikan dari 51,8 pada Juli. Thailand menyusul dengan PMI 53,8, kemudian Myanmar 50,3 dan Malaysia 50,2. Adapun PMI Manufaktur Indonesia turun ke level 49,8 dari 50,2 pada bulan sebelumnya. Level 50 menjadi batas yang memisahkan ekspansi dan kontraksi sektor manufaktur.
Baca Juga: Indeks Manufaktur Indonesia Kembali Masuk Zona Kontraksi pada Agustus 2026 Perbedaan kinerja paling mencolok terjadi antara Indonesia dan Filipina. PMI Manufaktur Filipina pada Agustus mencapai level tertinggi sejak Desember 2016. Penguatan tersebut ditopang kenaikan output, pesanan baru, pesanan ekspor baru, serta bertambahnya jumlah pelanggan. Kondisi tersebut mendorong produsen Filipina meningkatkan pembelian bahan baku sekaligus menambah tenaga kerja. Penyerapan tenaga kerja bahkan tumbuh untuk pertama kalinya dalam lima bulan dan mencatat laju penciptaan lapangan kerja terkuat dalam 21 bulan. Optimisme bisnis Filipina juga meningkat ke level tertinggi sejak November 2024. Pelaku industri memperkirakan produksi akan terus meningkat dalam 12 bulan ke depan, didukung rencana ekspansi, peluncuran produk baru, serta ekspektasi kenaikan pesanan dan pelanggan baru. Ekonom S&P Global Market Intelligence Maryam Baluch mengatakan, perusahaan manufaktur Filipina merespons peningkatan permintaan dengan menaikkan aktivitas pembelian dan perekrutan. "Perusahaan merespons dengan meningkatkan aktivitas pembelian dan perekrutan tenaga kerja untuk memenuhi kebutuhan produksi yang lebih besar. Pada saat yang sama, tekanan biaya mereda dan kepercayaan terhadap prospek bisnis dalam satu tahun ke depan meningkat ke level tertinggi dalam 21 bulan," ujar Baluch dalam keterangannya, Selasa (1/9/2026).
Thailand dan Malaysia
Thailand juga mempertahankan momentum ekspansi. PMI manufaktur negara tersebut mencapai 53,8 pada Agustus, meski sedikit turun dari 54,2 pada Juli yang merupakan level tertinggi dalam tujuh bulan. Produksi manufaktur Thailand tumbuh dengan laju tercepat kedua sepanjang 2026. Pertumbuhan pesanan baru juga berlanjut selama 16 bulan berturut-turut. Namun, peningkatan produksi dan pesanan baru belum diikuti kenaikan tenaga kerja. Jumlah pekerja justru turun tipis pada Agustus sehingga tekanan terhadap kapasitas produksi meningkat, tercermin dari bertambahnya pekerjaan yang belum terselesaikan.
Baca Juga: Impor Tiga Komoditas Utama Nonmigas Naik hingga Juli 2026 Sementara itu, manufaktur Malaysia masih berada di zona ekspansi. Namun, momentumnya melambat dengan PMI turun menjadi 50,2 dari 50,7 pada Juli. Ekspansi Malaysia tersebut menjadi yang ketiga secara beruntun, tetapi merupakan laju pertumbuhan paling lemah dalam periode tersebut. Pertumbuhan output dan pesanan baru juga melambat. Meski demikian, pasar tenaga kerja Malaysia menunjukkan perbaikan. Penyerapan tenaga kerja meningkat untuk pertama kalinya dalam empat bulan. Tekanan harga juga mereda, dengan inflasi biaya input turun ke level terendah dalam enam bulan. Menurut Baluch, kondisi tersebut dapat memberi ruang bagi perusahaan untuk menjaga pertumbuhan permintaan. Namun, tingkat kepercayaan bisnis masih rendah sehingga tantangan terhadap sektor manufaktur diperkirakan belum sepenuhnya berakhir.
Myanmar Mulai Pulih
Myanmar mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan. PMI manufakturnya naik dari 49,3 pada Juli menjadi 50,3 pada Agustus. Ini menjadi kali pertama dalam empat bulan PMI Myanmar kembali menembus level ekspansi. Meski demikian, perbaikannya masih tipis. Output dan pesanan baru masih mengalami kontraksi, meski dengan laju yang lebih lambat. Aktivitas pembelian meningkat untuk pertama kalinya dalam lima bulan. Kondisi tersebut turut mendorong perusahaan kembali meningkatkan persediaan input. Dari sisi tenaga kerja, tren positif justru berbalik. Setelah empat bulan berturut-turut mengalami pertumbuhan pekerjaan, jumlah tenaga kerja Myanmar kembali turun pada Agustus akibat pengunduran diri secara sukarela.
Baca Juga: BPS: Inflasi Inti Naik Jadi 2,92% pada Agustus 2026 Indonesia Masih Tertekan
Di tengah tren positif di sejumlah negara kawasan, manufaktur Indonesia justru kembali kehilangan momentum. PMI Manufaktur Indonesia turun ke 49,8 dari 50,2 pada Juli. Pelemahan tersebut terutama dipicu penurunan kembali pada output dan penyerapan tenaga kerja. S&P Global mencatat, produksi dan tenaga kerja manufaktur Indonesia telah menurun dalam lima dari enam periode survei terakhir. Pelemahan output dikaitkan dengan persaingan yang semakin ketat, permintaan yang masih lesu, serta kenaikan harga barang. Namun, terdapat sinyal perbaikan dari sisi permintaan. Pesanan baru Indonesia meningkat tipis untuk pertama kalinya dalam tiga bulan dan kembali masuk zona ekspansi, meski hanya sedikit di atas level 50. Aktivitas pembelian juga mulai stabil setelah mengalami penurunan selama lima bulan berturut-turut. Persediaan input meningkat untuk pertama kalinya dalam lima bulan karena perusahaan mulai membangun stok pengaman guna mengantisipasi kenaikan biaya bahan baku.
Baca Juga: BPS: Ekspor Besi, CPO hingga Batubara Naik hingga Juli 2026 Di sisi lain, optimisme pelaku manufaktur Indonesia justru membaik. Tingkat kepercayaan bisnis naik ke level tertinggi dalam tujuh bulan. Pelaku industri berharap permintaan dan kondisi pasar yang lebih stabil dapat menopang peningkatan produksi dalam 12 bulan mendatang. "Meski demikian, tekanan inflasi kembali mereda. Selain itu, kepercayaan bisnis juga terus pulih sejak April. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun kinerja sektor secara keseluruhan masih belum kuat, para pelaku manufaktur tetap optimistis bahwa produksi akan meningkat dalam 12 bulan ke depan," kata Baluch. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News