KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Penguatan aktivitas manufaktur Indonesia turut membuka peluang bagi industri komponen otomotif. PT Selamat Sempurna Tbk (SMSM) mencatatkan pertumbuhan penjualan bersih sebesar 6,74% secara tahunan atau
year on year (YoY) menjadi Rp 4,18 triliun hingga September 2026. Wakil Direktur Utama SMSM Ang Andri Pribadi mengatakan, permintaan produk perusahaan masih relatif terjaga di tengah perkembangan aktivitas manufaktur. Kontribusi terbesar berasal dari pasar suku cadang pengganti atau aftermarket yang menyumbang sekitar 85% terhadap penjualan perseroan. "Sementara itu, permintaan dari pelanggan OEM tetap mengikuti perkembangan produksi kendaraan dan kebutuhan masing-masing pelanggan," ujar Ang Andri dalam keterangannya kepada KONTAN, Rabu (4/11).
Baca Juga: Komisaris Mundur, Saham Krakatau Steel (KRAS) Menguat 1,96% Sebagai gambaran,
Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur Indonesia versi S&P Global meningkat menjadi 54,0 pada Oktober 2026, dari 52,4 pada September 2026. Capaian tersebut menjadi yang tertinggi sejak Maret 2024. Penguatan PMI ditopang oleh peningkatan permintaan domestik dan ekspor. Pesanan baru manufaktur tumbuh dengan laju tercepat dalam lima tahun terakhir, sedangkan pesanan ekspor baru mencatatkan pertumbuhan tertinggi sejak survei PMI Indonesia dimulai pada April 2011. Sejalan dengan perkembangan tersebut, SMSM membukukan pertumbuhan penjualan baik di pasar domestik maupun ekspor. Penjualan domestik meningkat 16,21% YoY menjadi Rp 1,59 triliun hingga September 2026. Sementara itu, penjualan ekspor tumbuh 1,64% menjadi Rp 2,59 triliun. Ang Andri menyebut, pertumbuhan penjualan domestik antara lain ditopang penguatan jaringan distribusi serta peningkatan permintaan dari segmen kendaraan komersial. Dari sisi produk, penjualan filter masih menjadi kontributor terbesar bagi SMSM. Hingga kuartal III-2026, penjualan produk filter mencapai Rp 2,99 triliun atau tumbuh 1,44% YoY. Adapun penjualan radiator meningkat 5,81% menjadi Rp 489 miliar. Selain produk utama tersebut, segmen distribusi juga mencatatkan pertumbuhan 14,43% menjadi Rp 1,42 triliun. Sementara itu, segmen karoseri tumbuh 40,54% menjadi Rp 157 miliar. Menurut Ang Andri, permintaan produk perseroan masih banyak didukung kebutuhan penggantian suku cadang melalui pasar aftermarket, baik domestik maupun ekspor. Permintaan tersebut terutama berasal dari segmen kendaraan komersial dan alat berat. Perusahaan juga melihat potensi peningkatan kebutuhan penggantian filter seiring implementasi kebijakan biodiesel B50. Meski demikian, Ang Andri menyebut dampak kebijakan tersebut terhadap penjualan SMSM saat ini masih relatif terbatas. Di sisi produksi, SMSM masih memiliki ruang untuk meningkatkan output tanpa harus segera melakukan investasi besar untuk penambahan kapasitas. Saat ini, tingkat utilisasi fasilitas produksi perseroan berada di kisaran 70%. Karena itu, SMSM lebih berfokus mengoptimalkan fasilitas produksi yang tersedia, meningkatkan produktivitas, serta menjaga efisiensi operasional dan kualitas produk. Aktivitas produksi akan terus disesuaikan dengan perkembangan permintaan dan pesanan pelanggan.
Dari sisi pemasaran, perseroan melanjutkan penguatan jaringan distribusi domestik, termasuk pengembangan cabang di berbagai wilayah. SMSM juga berupaya memperluas penetrasi pasar ekspor yang masih menjadi salah satu penopang bisnis. Hingga September 2026, pasar ekspor berkontribusi sekitar 62% terhadap total penjualan SMSM. Perusahaan juga terus mengembangkan variasi produk untuk memenuhi kebutuhan pelanggan dan memperluas cakupan pasar.
Baca Juga: Antam (ANTM) Sambut Bursa Mineral dan Komoditas Strategis Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News