KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kenaikan Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia ke level 52,4 pada September 2026 menjadi sinyal positif bagi industri baja nasional. Namun, pelaku industri masih menghadapi tekanan biaya produksi dan persaingan dengan produk impor. Direktur Eksekutif Indonesian Iron & Steel Industry Association (IISIA) Harry Warganegara mengatakan, kenaikan PMI dari 49,8 pada Agustus menjadi 52,4 pada September menunjukkan adanya perbaikan aktivitas manufaktur. Penguatan tersebut terutama didorong oleh peningkatan pesanan baru dan permintaan ekspor. Berdasarkan survei S&P Global, pertumbuhan pesanan baru pada September merupakan yang tercepat sejak Februari 2026. Sementara itu, pesanan ekspor mencatat pertumbuhan terkuat sejak Mei 2022.
PMI Manufaktur Naik, Industri Baja Masih Dibayangi Tekanan Biaya dan Impor
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kenaikan Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia ke level 52,4 pada September 2026 menjadi sinyal positif bagi industri baja nasional. Namun, pelaku industri masih menghadapi tekanan biaya produksi dan persaingan dengan produk impor. Direktur Eksekutif Indonesian Iron & Steel Industry Association (IISIA) Harry Warganegara mengatakan, kenaikan PMI dari 49,8 pada Agustus menjadi 52,4 pada September menunjukkan adanya perbaikan aktivitas manufaktur. Penguatan tersebut terutama didorong oleh peningkatan pesanan baru dan permintaan ekspor. Berdasarkan survei S&P Global, pertumbuhan pesanan baru pada September merupakan yang tercepat sejak Februari 2026. Sementara itu, pesanan ekspor mencatat pertumbuhan terkuat sejak Mei 2022.