PMI Manufaktur Naik, Industri Otomotif dan Rantai Pasok Mulai Menguat



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Industri manufaktur mulai menunjukkan penguatan pada September 2026. Kondisi ini tercermin dari Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia yang kembali masuk zona ekspansi di level 52,4, naik dari 49,8 pada Agustus 2026.

Sekretaris Jenderal Gabungan Industri Alat-alat Mobil dan Motor (GIAMM) Rachmad Basuki mengatakan, penguatan aktivitas manufaktur tersebut sejalan dengan peningkatan penjualan kendaraan bermotor domestik.

"Kalau dari sisi industri otomotif kenaikan PMI di bulan September, sejalan juga dengan kenaikan penjualan domestik yang terus mengalami kenaikan," kata Rachmad kepada Kontan, Kamis (1/10/2026).


Baca Juga: PMI Manufaktur Indonesia di September Kembali Ekspansif, Terdorong Permintaan Ekspor

Menurutnya, peningkatan permintaan kendaraan turut memberikan dampak positif terhadap industri komponen sebagai bagian dari rantai pasok otomotif. Kenaikan produksi kendaraan akan mendorong pemasok meningkatkan pasokan komponen untuk memenuhi kebutuhan manufaktur.

"Imbas dari kenaikan tersebut juga akan mendorong supply chain-nya (supplier) untuk meningkatkan supply-nya," ujarnya.

Rachmad menyebut, penguatan tersebut sejauh ini sudah dirasakan oleh industri manufaktur otomotif. Ia menilai kondisi serupa juga berpeluang dirasakan oleh sektor manufaktur secara lebih luas.

Memasuki kuartal IV-2026, Rachmad melihat peluang penguatan industri masih terbuka. Hal ini didukung oleh penguatan pasar yang telah dirasakan sejak kuartal I-2026.

"Dengan penguatan pasar yang dirasakan sejak Q1, bisa jadi Q4 juga tetap akan terjadi penguatan jika tidak ada hal-hal yang extraordinary," jelasnya.

Meski demikian, terdapat sejumlah faktor yang perlu diwaspadai pelaku industri. Rachmad menyebut harga energi yang tidak stabil serta harga bahan baku yang fluktuatif dapat menjadi tantangan bagi ekspansi manufaktur.

Selain itu, isu upah minimum provinsi (UMP) yang tidak sejalan dengan produktivitas juga berpotensi menjadi hambatan bagi dunia usaha dalam memperluas aktivitas produksinya.

"Seperti harga energi yang kurang stabil dan harga raw material yang fluktuatif serta isu UMP versus produktivitas sebagai penghambat ekspansi," kata Rachmad.

Di tengah berbagai tantangan tersebut, permintaan domestik masih menjadi salah satu faktor utama yang diharapkan menopang pertumbuhan industri manufaktur hingga akhir tahun.

Baca Juga: Adopsi AI Melesat, Metrodata (MTDL) Genjot Bisnis Data dan AI

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News