PMI Manufaktur Naik ke 50,0, Tapi Industri Belum Sepenuhnya Pulih



KONTAN.CO.ID-JAKARTA. Aktivitas manufaktur Indonesia mulai menunjukkan tanda-tanda perbaikan setelah Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur Indonesia kembali naik ke level 50,0 pada Mei 2026. 

Namun, kenaikan tersebut dinilai belum cukup kuat untuk mencerminkan pemulihan sektor manufaktur secara menyeluruh.

Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef, M Rizal Taufikurahman, mengatakan posisi PMI di level 50 masih menempatkan industri pada titik batas antara fase ekspansi dan kontraksi.


"PMI Manufaktur Indonesia yang kembali naik ke level 50,0 pada Mei 2026 memang memberikan sinyal bahwa aktivitas industri mulai bergerak keluar dari fase kontraksi. Namun, kenaikan ini masih sangat terbatas dan belum cukup kuat untuk menggambarkan pemulihan sektor manufaktur secara menyeluruh," ujar Rizal kepada Kontan.co.id, Selasa (2/6/2026).

Baca Juga: Bappenas: Kerugian Ekonomi Akibat Perubahan Iklim Capai Rp 2.005 Triliun

Menurut Rizal, berbagai tekanan terhadap sektor manufaktur masih cukup besar. Pelemahan daya beli masyarakat, tingginya biaya bahan baku impor akibat tekanan nilai tukar rupiah, serta perlambatan permintaan global masih menjadi faktor utama yang menahan akselerasi pertumbuhan industri nasional.

Ia menilai capaian PMI saat ini lebih mencerminkan upaya industri dalam menahan laju perlambatan dibandingkan menunjukkan fase ekspansi yang kuat dan berkelanjutan.

Di sisi lain, sektor manufaktur juga masih menghadapi berbagai persoalan struktural yang belum terselesaikan. Beberapa subsektor padat karya seperti tekstil, alas kaki, dan furnitur masih bergulat dengan lemahnya permintaan pasar serta meningkatnya persaingan dari produk impor.

Baca Juga: BPS Catat Impor pada April 2026 Melonjak 22,49%, Cermati Pemicunya

Kondisi tersebut membuat pelaku industri cenderung bersikap hati-hati dalam mengambil keputusan investasi. Tingkat ketidakpastian ekonomi global maupun domestik yang masih tinggi menjadi alasan utama dunia usaha menahan ekspansi kapasitas produksi.

"Artinya, kenaikan PMI saat ini lebih mencerminkan adanya perbaikan momentum jangka pendek dan penahanan perlambatan industri, bukan sinyal bahwa sektor manufaktur sudah sepenuhnya pulih atau kembali ekspansif secara kuat," kata Rizal.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News