KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Asosiasi Pengusaha Indonesia menilai pelemahan Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia ke level 49,1 pada April 2026 perlu diwaspadai karena berpotensi menjadi titik balik siklus industri nasional. Ketua Umum Apindo, Shinta Widjaja Kamdani, mengungkapkan, penurunan PMI tersebut merupakan kontraksi pertama dalam sembilan bulan terakhir sekaligus level terendah sejak pertengahan 2025. Menurut dia, perlambatan sektor manufaktur terjadi sangat cepat dalam dua bulan terakhir.
PMI manufaktur tercatat berada di level 52,6 pada Januari 2026, naik menjadi 53,8 pada Februari, lalu turun ke 50,1 pada Maret dan kembali terkontraksi ke level 49,1 pada April 2026.
Baca Juga: Harga Bahan Baku Melonjak, Industri Tekstil Harap Pemerintah Beri Diskon PPN “Dalam dua bulan, sektor manufaktur bergerak dari fase ekspansi kuat ke kontraksi. Ini perlu dilihat hati-hati agar jangan sampai menjadi turning point dalam siklus industri,” ujar Shinta kepada Kontan, Minggu (10/5/2026). Shinta menilai ketegangan geopolitik di Timur Tengah menjadi faktor utama yang menekan industri manufaktur. Dampaknya merambat ke berbagai kanal ekonomi domestik, mulai dari pelemahan permintaan ekspor, kenaikan biaya produksi, hingga meningkatnya ketidakpastian usaha. Menurut dia, tekanan biaya produksi meningkat akibat kenaikan harga energi, bahan baku, dan gangguan rantai pasok global. Kondisi tersebut membuat pelaku industri lebih berhati-hati dalam melakukan ekspansi, produksi, hingga penyerapan tenaga kerja. “Ketika memasuki kuartal II dan seterusnya, di mana tidak ada
seasonal buffer, risiko pelemahan menjadi lebih nyata dan berpotensi lebih persisten,” katanya.
Baca Juga: Harga BBM Dexlite Melonjak, Mitsubishi: Pajero Sport Dirancang Irit Bahan Bakar Apindo juga menilai pelemahan PMI perlu dicermati karena indikator tersebut bersifat
forward-looking dan lebih cepat menangkap pelemahan permintaan serta ekspektasi usaha dibanding Indeks Kepercayaan Industri (IKI) yang masih berada di zona ekspansi. Di tengah tekanan tersebut, pelaku usaha kini fokus melakukan efisiensi operasional, diversifikasi pasar, penyesuaian produksi dan persediaan, hingga memperkuat manajemen risiko terhadap volatilitas nilai tukar dan harga komoditas. Shinta mengatakan, dunia usaha membutuhkan stabilitas harga energi dan bahan baku, kepastian pasokan, dukungan likuiditas, hingga percepatan deregulasi untuk menekan
high cost economy. “Ketahanan sektor manufaktur Indonesia masih cukup kuat dalam jangka pendek, tetapi bersifat
fragile apabila tekanan global berlangsung lebih lama atau semakin intens,” ungkapnya.
Baca Juga: PMI Manufaktur Turun ke 49,1, Ekonom Soroti Tekanan Kenaikan Biaya dan Pasokan Karena itu, ia menilai pemerintah perlu menjaga stabilitas makroekonomi, memperkuat konsumsi domestik, serta mempercepat reformasi struktural seperti pengembangan industri hulu dan ketahanan energi nasional agar manufaktur lebih tahan terhadap gejolak global. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News