PMI Manufaktur Turun ke 46,9, Industri Mebel Berupaya Pertahankan Tenaga Kerja



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Industri mebel dan kerajinan nasional berupaya mempertahankan tenaga kerja di tengah tekanan terhadap sektor manufaktur saat ini. 

Sebagai informasi berdasarkan laporan S&P Global, Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur Indonesia turun ke posisi 46,9 pada Juni 2026 dari level 50,0 pada bulan sebelumnya.

Laporan tersebut juga mengungkapkan bahwa perusahaan manufaktur kembali mengurangi jumlah tenaga kerja dengan tingkat tercepat sejak September 2021.


Baca Juga: Target Akhir Juni Terlewati, Danantara Belum Rilis Laporan Keuangan 2025

Ketua Umum Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) Abdul Sobur mengungkapkan, kontraksi tersebut telah dirasakan oleh pelaku industri. 

Menurutnya, saat ini beberapa perusahaan mengalami penurunan utilisasi kapasitas produksi, sedang sebagian lainnya memilih lebih berhati-hati dalam melakukan ekspansi investasi dan penambahan tenaga kerja.

Namun secara umum, Sobur menyebut industri furnitur nasional masih berusaha mempertahankan tenaga kerja.

"Sebab, sektor ini merupakan industri padat karya yang sangat bergantung pada keterampilan sumber daya manusia (SDM)," ujarnya kepada Kontan, Kamis (2/7/2026).

Sobur bilang, pelaku usaha furnitur saat ini lebih memilih meningkatkan efisiensi operasional dibandingkan memangkas jumlah tenaga kerja besar-besaran.

Meskipun memang, HIMKI melihat kontraksi PMI mencerminkan melemahnya permintaan, baik di pasar domestik maupun ekspor.

Di pasar domestik, Sobur menilai daya beli masyarakat, khususnya kelas menengah, masih belum pulih sepenuhnya. Sehingga, pembelian furnitur cenderung ditunda karena bukan merupakan kebutuhan primer.

Adapun di sisi ekspor, ketidakpastian ekonomi global, tingginya suku bunga di berbagai negara tujuan, serta dinamika kebijakan perdagangan internasional membuat banyak buyer (pembeli) mengambil sikap wait and see. "Akibatnya, order atau pesanan baru belum tumbuh secepat yang diharapkan," kata Sobur.

Baca Juga: Akvindo Mendorong Literasi Risiko untuk Memahami Nikotin Secara Komprehensif

Selain faktor permintaan, ia mencermati industri juga masih menghadapi tingginya biaya logistik, biaya energi, biaya pembiayaan, serta persaingan yang semakin ketat dari negara-negara produsen lain di Asia.

HIMKI melihat prospek industri furnitur di semester kedua tahun ini masih penuh tantangan. Tapi, Sobur bilang masih terdapat peluang perbaikan apabila berbagai stimulus pemerintah mulai berjalan efektif, diiringi kondisi perdagangan global yang semakin stabil.

"Permintaan ekspor juga diperkirakan akan membaik secara bertahap menjelang akhir tahun, terutama menjelang musim pengadaan dan pengiriman untuk pasar Amerika, Eropa, dan Timur Tengah," imbuhnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News