KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Tekanan terhadap sektor manufaktur Indonesia dinilai mulai menunjukkan gejala yang lebih struktural, bukan sekadar perlambatan siklus jangka pendek. Pelemahan Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia ke level 49,1 pada April 2026 mencerminkan tekanan berat dari kenaikan biaya produksi dan gangguan pasokan bahan baku di tengah gejolak global. Ekonom Center of Reform on Economics Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menilai, berbeda dengan periode sebelumnya yang lebih dipicu pelemahan permintaan ekspor, kontraksi manufaktur kali ini justru berasal dari sisi produksi.
PMI Manufaktur Turun ke 49,1, Ekonom Soroti Tekanan Kenaikan Biaya dan Pasokan
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Tekanan terhadap sektor manufaktur Indonesia dinilai mulai menunjukkan gejala yang lebih struktural, bukan sekadar perlambatan siklus jangka pendek. Pelemahan Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia ke level 49,1 pada April 2026 mencerminkan tekanan berat dari kenaikan biaya produksi dan gangguan pasokan bahan baku di tengah gejolak global. Ekonom Center of Reform on Economics Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menilai, berbeda dengan periode sebelumnya yang lebih dipicu pelemahan permintaan ekspor, kontraksi manufaktur kali ini justru berasal dari sisi produksi.
TAG:
- industri manufaktur
- inflasi
- sektor industri
- kebijakan fiskal
- Ekonomi Indonesia
- biaya produksi
- PMI Manufaktur Indonesia
- Harga Energi
- Pasokan Bahan Baku
- Gejolak global
- Indeks Manufaktur April 2026
- Biaya Produksi Manufaktur
- Harga Output Industri
- Gangguan Pasokan Bahan Baku
- Ekonomi Manufaktur Indonesia
- Sektor Manufaktur Terjepit
- Ketergantungan Bahan Baku Impor
- Industri Hulu Domestik
- Ancaman PHK Manufaktur
- Inflasi Manufaktur
- Gejolak Global Ekonomi