PMI Manufaktur Turun ke 49,1, Kadin Dorong Stimulus untuk Industri



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kalangan pengusaha menilai penurunan Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia ke level 49,1 pada April 2026 menjadi sinyal kewaspadaan bagi sektor industri. Pelemahan ini dinilai tidak lepas dari tekanan geopolitik global yang memicu gangguan rantai pasok dan lonjakan biaya input produksi.

Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) DKI Jakarta Diana Dewi mengungkapkan, kondisi tersebut berpotensi menekan margin keuntungan industri akibat terganggunya pengiriman bahan baku dan meningkatnya biaya produksi.

“Kontraksi output yang solid menunjukkan adanya penurunan permintaan, baik domestik maupun luar negeri, yang memaksa beberapa perusahaan mulai menahan ekspansi,” ujar Diana kepada Kontan, Minggu (10/5/2026).


Ia menambahkan, meskipun PMI manufaktur April melemah dibanding Maret yang berada di level 50,1, pelaku usaha masih berharap terjadi perbaikan pada kuartal berikutnya. Optimisme tersebut didorong potensi stabilisasi harga bahan baku dan membaiknya kondisi rantai pasok global.

Baca Juga: Pemerintah Berencana Kerek Royalti Mineral, Apindo: Beban Pelaku Usaha Makin Berat

Menurut Diana, pemerintah perlu segera mengeluarkan stimulus ekonomi dan kebijakan baru untuk membalikkan arah perlambatan ekonomi serta mendorong aktivitas sektor riil. Langkah tersebut dinilai penting untuk menjaga momentum pertumbuhan industri di tengah tekanan global.

Selain itu, Kadin mendorong pemerintah menggalakkan kampanye penggunaan produk dalam negeri guna meningkatkan pesanan baru dan produksi industri nasional. Upaya tersebut diyakini dapat berdampak langsung terhadap perbaikan PMI manufaktur.

“Kemudian penguatan substitusi impor juga penting untuk mengurangi ketergantungan pada bahan baku luar negeri dan meningkatkan kemandirian industri,” katanya.

Diana juga menilai sektor manufaktur perlu meningkatkan efisiensi produksi melalui pemanfaatan teknologi dan digitalisasi agar biaya operasional dapat ditekan.

Peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM) industri juga diperlukan agar lebih adaptif terhadap perkembangan teknologi.

Di sisi lain, koordinasi pemerintah dengan sektor swasta dan Bank Indonesia (BI) perlu diperkuat guna menjaga likuiditas industri. Dengan begitu, pelaku usaha tetap memiliki akses pembiayaan yang memadai di tengah tekanan geopolitik global.

“Kami berharap PMI manufaktur Indonesia pada Mei dan bulan-bulan selanjutnya bisa meningkat signifikan guna menekan laju inflasi,” imbuh Diana.

Baca Juga: PMI Manufaktur Turun Cepat, Apindo Soroti Risiko Tekanan Berkepanjangan

Sebelumnya, data S&P Global menunjukkan PMI manufaktur Indonesia turun dari 50,1 pada Maret menjadi 49,1 pada April 2026. Penurunan ini menandai kontraksi pertama dalam sembilan bulan terakhir sekaligus mencerminkan melemahnya kondisi operasional industri pada awal kuartal II-2026.

Ekonom S&P Global Market Intelligence Usamah Bhatti mengatakan, tekanan inflasi biaya semakin intensif di tengah konflik Timur Tengah. Perusahaan manufaktur menghadapi kenaikan harga bahan baku dan keterbatasan pasokan yang memicu perlambatan produksi.

Selain itu, pesanan ekspor juga tercatat menurun seiring lemahnya permintaan global. Sementara itu, tekanan biaya input pada April menjadi yang tertinggi dalam empat tahun terakhir dan mendorong produsen menaikkan harga jual dengan laju tercepat dalam lebih dari 12 tahun.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News