Pop Mart Ekspansi ke Bisnis Kuliner, Bakery Labubu Perdana Dibuka di Singapura



KONTAN.CO.ID - Produsen mainan koleksi asal Beijing, Pop Mart, memperluas bisnisnya ke industri makanan penutup dengan membuka toko roti internasional pertamanya di Singapura.

Perusahaan yang dikenal lewat boneka Labubu dan konsep blind box ini kini menghadirkan karakter-karakter populernya dalam bentuk aneka kue, es krim, dan minuman.

Baca Juga: Mata Uang Asia Tertekan Rabu (29/7) Pagi, Rupiah Jebol Level Rp 18.100 per Dolar AS


Mengutip Reuters, toko roti dua lantai tersebut berlokasi di seberang Universal Studios Singapore dan menawarkan 45 menu bertema karakter Pop Mart.

Produk yang dijual antara lain es loli Labubu rasa wijen hitam hingga kue double cheesecake Molly, dengan harga berkisar S$ 5 hingga S$ 32 per item.

Kepala Pop Bakery Pop Mart, Zhang Xiaoyang mengatakan, Singapura menjadi langkah awal ekspansi internasional perusahaan.

"Kami juga mempertimbangkan membuka toko roti di Eropa dan Amerika Serikat. Tinggal masalah waktu karena kami masih perlu menyiapkan rantai pasok lokal," ujarnya.

Selain itu, Pop Mart juga berencana membuka gerai makanan penutup di sejumlah negara Asia Tenggara, termasuk Thailand, Indonesia, dan Malaysia.

Baca Juga: Nikkei Jepang Masih Labil usai Anjlok Rabu (29/7), Saham AI dan Chip Jadi Sorotan

Ekspansi ke Singapura dilakukan setelah Pop Mart membuka toko roti pertamanya di Qinhuangdao, China, pada April lalu.

Sebelum itu, perusahaan menguji konsep bisnis tersebut melalui lebih dari 30 gerai dessert bergerak (pop-up dessert truck) di berbagai kota di China.

Diversifikasi bisnis ini dilakukan di tengah meningkatnya biaya produksi dan munculnya pertanyaan dari analis mengenai keberlanjutan pertumbuhan bisnis Pop Mart.

Dalam beberapa kuartal terakhir, pertumbuhan penjualan dan laba tahunan perusahaan dinilai belum memenuhi ekspektasi pasar.

Dosen SDA Bocconi School of Management Laura Pan menilai, bisnis toko roti dapat menjadi strategi diversifikasi yang menarik bagi Pop Mart.

Baca Juga: KOSPI Bangkit Hampir 1,5% Rabu (29/7) Usai Anjlok 10%, Saham Chip Pimpin Penguatan

"Bisnis bakery merupakan alat diversifikasi yang baik karena perusahaan mainan memiliki ruang pertumbuhan yang terbatas dan kemungkinan telah mencapai batas dalam manufaktur mainan," ujarnya.

Namun, menurutnya, jika Pop Mart benar-benar membuka toko roti di Amerika Serikat, keberhasilannya masih menjadi tanda tanya karena demam Labubu dinilai mulai mereda.

Seiring melonjaknya permintaan global terhadap boneka, gantungan tas, dan barang koleksi Pop Mart, perusahaan terus memperluas pemanfaatan kekayaan intelektual (IP) yang dimilikinya.

Pop Mart sebelumnya menyatakan ingin mengikuti jejak Disney dengan mengubah popularitas jangka pendek menjadi bisnis jangka panjang.

Tahun ini, Pop Mart juga mengumumkan kerja sama dengan Sony Pictures untuk mengembangkan film Labubu, sekaligus memperluas taman hiburan Pop Land di Beijing.

Baca Juga: China Suntik Dana Jumbo ke Pasar, PBOC Injeksi 806,5 Miliar Yuan

"Kami berharap IP kami dapat hadir dalam setiap aspek kehidupan konsumen, dan makanan penutup adalah salah satunya," kata Zhang.

Ia menambahkan, Pop Mart mengusung konsep yang berbeda dari perusahaan hiburan lain karena menghadirkan karakter-karakternya dalam bentuk tiga dimensi yang sepenuhnya dapat dimakan, bukan sekadar dekorasi datar atau hiasan plastik pada kue.