KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI) mendorong pemerintah untuk segera merancang sistem dana pensiun terpusat di tengah lonjakan populasi lansia nasional. Kepala Lembaga Demografi FEB UI I Dewa Gede Karma Wisana pada acara HUT KONTAN ke-30 di Studio 1 Menara Kompas Jakarta, menilai kesiapan pensiun di Indonesia saat ini masih sangat terbatas dan belum menjangkau seluruh lapisan masyarakat. “28 juta lansia umur 60 tahun ke atas itu akan melonjak menjadi 65 juta, dua kalinya. Kemudian, tahun 2045, satu di antara kita, lima orang, itu akan masuk kategori lansia, ya,” ujar Dewa dalam sesi talkshow HUT Ke-30 Kontan di Jakarta, Selasa (29/09/2026). Baca Juga: Sebanyak 50% Travel Umrah Tidak Aktif, Kemenhaj Rombak Aturan Perizinan Ia menyebut tanpa adanya jaminan pensiun, bekerja pada usia tua bukan lagi menjadi pilihan bagi para lansia, melainkan sebuah keharusan demi menyambung hidup. “Kalau mereka-mereka yang menua nanti tidak punya pensiun, mereka tetap harus kerja. Jadi, bekerja ini bukan pilihan buat Bapak, Ibu yang lansia nanti. Ya, mereka akan tetap harus kerja karena kalau enggak punya penyokong, tetap harus cari sumber pendapatan,” jelasnya. Dewa membeberkan bahwa aset dana pensiun di Indonesia saat ini baru mencapai 6,7 persen, jauh tertinggal dibandingkan negara-negara maju. “Faktanya saat ini di Indonesia, aset dana pensiun kita itu baru 6,7%. Bandingkan dengan OECD dan beberapa negara maju lain, sudah di atas 80%,” ujarnya kepada awak media di Menara Kompas, Jakarta, Selasa (29/09/2026). Ia menjelaskan bahwa saat ini kepemilikan dana pensiun di Indonesia masih terkonsentrasi di kelompok pekerja formal dan ASN, sehingga menjadi sebuah hak istimewa (privilege). “Tadi, kesiapan pensiun ini masih grup elit di republik, ini privilege. Hanya mereka yang masuk di desil tertinggi yang umumnya punya cakupan pensiun, dan mereka kelompok yang sangat terbatas, ya. Sementara yang paling butuh pensiun justru yang enggak punya,” ungkap Dewa kepada awak media di Menara Kompas, Jakarta, Selasa (29/09/2026). Di sisi lain, lonjakan populasi lansia kelompok umur 70 hingga 80 tahun ke atas juga memunculkan kebutuhan akan infrastruktur care economy (ekonomi perawatan) yang saat ini belum tergarap secara sistemik. “Care economy itu adalah infrastruktur yang saat ini belum terlihat secara sistemik. Ya, dan ini yang perlu dibangun,” tuturnya. Baca Juga: BRIN Ungkap Vape Berdampak pada Risiko Diabetes, Hasil Uji Capai 100% Oleh karena itu, Dewa menegaskan pentingnya pembentukan skema dana pensiun universal bagi seluruh masyarakat Indonesia. “Saya ingin mempromosikan kita harus mulai segera merancang sistem dana pensiun yang universal, yang semua orang punya. Nilainya bisa kita diskusikan berapa, karena kita harus punya bare minimum-nya, nilai paling minimum berapa cakupan pensiun untuk seluruh masyarakat Indonesia... Dan itu perlu disokong lewat program dana pensiun yang dimulai dari sekarang untuk itu,” pungkasnya kepada awak media di Menara Kompas, Jakarta, Selasa (29/09).
Populasi Lansia Capai 65 Juta, Lembaga Demografi FEB UI Usulkan Bentuk Dana Pensiun
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI) mendorong pemerintah untuk segera merancang sistem dana pensiun terpusat di tengah lonjakan populasi lansia nasional. Kepala Lembaga Demografi FEB UI I Dewa Gede Karma Wisana pada acara HUT KONTAN ke-30 di Studio 1 Menara Kompas Jakarta, menilai kesiapan pensiun di Indonesia saat ini masih sangat terbatas dan belum menjangkau seluruh lapisan masyarakat. “28 juta lansia umur 60 tahun ke atas itu akan melonjak menjadi 65 juta, dua kalinya. Kemudian, tahun 2045, satu di antara kita, lima orang, itu akan masuk kategori lansia, ya,” ujar Dewa dalam sesi talkshow HUT Ke-30 Kontan di Jakarta, Selasa (29/09/2026). Baca Juga: Sebanyak 50% Travel Umrah Tidak Aktif, Kemenhaj Rombak Aturan Perizinan Ia menyebut tanpa adanya jaminan pensiun, bekerja pada usia tua bukan lagi menjadi pilihan bagi para lansia, melainkan sebuah keharusan demi menyambung hidup. “Kalau mereka-mereka yang menua nanti tidak punya pensiun, mereka tetap harus kerja. Jadi, bekerja ini bukan pilihan buat Bapak, Ibu yang lansia nanti. Ya, mereka akan tetap harus kerja karena kalau enggak punya penyokong, tetap harus cari sumber pendapatan,” jelasnya. Dewa membeberkan bahwa aset dana pensiun di Indonesia saat ini baru mencapai 6,7 persen, jauh tertinggal dibandingkan negara-negara maju. “Faktanya saat ini di Indonesia, aset dana pensiun kita itu baru 6,7%. Bandingkan dengan OECD dan beberapa negara maju lain, sudah di atas 80%,” ujarnya kepada awak media di Menara Kompas, Jakarta, Selasa (29/09/2026). Ia menjelaskan bahwa saat ini kepemilikan dana pensiun di Indonesia masih terkonsentrasi di kelompok pekerja formal dan ASN, sehingga menjadi sebuah hak istimewa (privilege). “Tadi, kesiapan pensiun ini masih grup elit di republik, ini privilege. Hanya mereka yang masuk di desil tertinggi yang umumnya punya cakupan pensiun, dan mereka kelompok yang sangat terbatas, ya. Sementara yang paling butuh pensiun justru yang enggak punya,” ungkap Dewa kepada awak media di Menara Kompas, Jakarta, Selasa (29/09/2026). Di sisi lain, lonjakan populasi lansia kelompok umur 70 hingga 80 tahun ke atas juga memunculkan kebutuhan akan infrastruktur care economy (ekonomi perawatan) yang saat ini belum tergarap secara sistemik. “Care economy itu adalah infrastruktur yang saat ini belum terlihat secara sistemik. Ya, dan ini yang perlu dibangun,” tuturnya. Baca Juga: BRIN Ungkap Vape Berdampak pada Risiko Diabetes, Hasil Uji Capai 100% Oleh karena itu, Dewa menegaskan pentingnya pembentukan skema dana pensiun universal bagi seluruh masyarakat Indonesia. “Saya ingin mempromosikan kita harus mulai segera merancang sistem dana pensiun yang universal, yang semua orang punya. Nilainya bisa kita diskusikan berapa, karena kita harus punya bare minimum-nya, nilai paling minimum berapa cakupan pensiun untuk seluruh masyarakat Indonesia... Dan itu perlu disokong lewat program dana pensiun yang dimulai dari sekarang untuk itu,” pungkasnya kepada awak media di Menara Kompas, Jakarta, Selasa (29/09).
TAG: