KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Populasi satwa liar di dunia terus mengalami penurunan dalam lebih dari lima dekade terakhir. Laporan terbaru World Wide Fund for Nature (WWF) mencatat populasi spesies vertebrata yang dipantau turun rata-rata 73% sepanjang 1970 hingga 2022. Laporan Living Planet Report 2026 yang diterbitkan Kamis (8/10/2026) memantau 35.803 populasi dari 5.790 spesies mamalia, burung, reptil, amfibi, dan ikan.
Secara rata-rata, populasi tersebut menyusut sekitar 2,5% setiap tahun selama periode 52 tahun. "Belum ada bukti pemulihan global," kata Andrew Terry,
Chief Conservation Officer Zoological Society of London (ZSL).
Baca Juga: Flu Burung H5N1 Mulai Sebar di Satwa Liar Australia, Puluhan Burung Laut Mati Penurunan paling tajam terjadi pada spesies air tawar yang populasinya anjlok rata-rata 85%. Sementara itu, populasi spesies darat turun 69% dan spesies laut berkurang 59%. Secara wilayah, Amerika Selatan mencatat penurunan terbesar dengan rata-rata mencapai 95%, disusul Afrika sebesar 80%. WWF menegaskan angka tersebut tidak menunjukkan jumlah absolut satwa yang hilang di dunia. Indeks yang digunakan mengukur perubahan rata-rata populasi yang dipantau dan sangat sensitif terhadap perubahan pada populasi yang sejak awal berjumlah kecil. Dibandingkan laporan 2024, laporan terbaru menambahkan data 295 spesies dan 967 populasi serta menggunakan rentang waktu yang lebih panjang. Menurut Terry, tambahan data tersebut semakin memperkuat bukti bahwa keanekaragaman hayati dunia terus mengalami penurunan.
Baca Juga: Melihat Prospek Emiten Properti Aguan yang Sahamnya Turun Sejak Awal 2026 Kehilangan dan kerusakan habitat menjadi ancaman yang paling banyak ditemukan. Selain itu, satwa liar menghadapi tekanan akibat eksploitasi berlebihan, perubahan iklim, polusi, spesies invasif, dan penyakit. Meski demikian, WWF melihat peluang pemulihan melalui upaya konservasi yang tepat sasaran. Populasi sejumlah spesies, termasuk harimau, tuna sirip biru Atlantik dan Pasifik, gajah Afrika bagian selatan, serta penyu hijau, telah menunjukkan pemulihan. WWF menilai pemulihan biodiversitas tidak cukup hanya melalui konservasi, tetapi juga membutuhkan perubahan pada sistem energi, pangan, dan pembiayaan untuk menghentikan laju kerusakan alam.