Porsi Investasi Dana Pensiun di Instrumen Saham Masih Mini, Ini Penjelasan ADPI



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Porsi penempatan industri dana pensiun di instrumen saham terbilang masih mini dibandingkan instrumen lainnya. Berdasarkan data statistik Otoritas Jasa Keuangan (OJK), alokasi dana pensiun di saham mencapai Rp 18,79 triliun per Agustus 2026. Porsinya sebesar 4,76%  terhadap total investasi industri yang mencapai Rp 394,56 triliun per Agustus 2026.

Terkait hal itu, Asosiasi Dana Pensiun Indonesia (ADPI) menjelaskan rendahnya porsi investasi dana pensiun di instrumen saham utamanya dipengaruhi penerapan prinsip kehati-hatian, serta penyelarasan antara profil aset dan kewajiban. 

"Dana Pensiun mengelola dana jangka panjang dengan prioritas utama menjaga keamanan nilai pokok dana dan kepastian arus kas untuk pemenuhan kewajiban pembayaran manfaat pensiun peserta," ucap Wakil Ketua 3 ADPI Budi Sutrisno kepada Kontan, Minggu (8/11/2026).


Selain itu, Budi menerangkan tingginya volatilitas mark to market harga saham harian berpotensi menekan penilaian nilai wajar aset portofolio. Oleh karena itu, dia bilang alokasi investasi pada instrumen ekuitas dilakukan secara sangat terbatas dan terukur. 

Baca Juga: ADPI: SBN dan Deposito Jadi Instrumen Aman Investasi DPLK di Tengah Volatilitas Pasar

Budi mengatakan alokasi dapen di instrumen saham umumnya difokuskan pada emiten berfundamental kokoh, berlikuiditas tinggi, serta konsisten membagikan dividen. Hal itu bertujuan menjaga stabilitas portofolio secara keseluruhan.

Lebih lanjut, Budi menyampaikan ada sejumlah aspek yang perlu dilakukan agar alokasi investasi saham dana pensiun dapat meningkat secara proporsional. Dia bilang industri membutuhkan kedalaman likuiditas di pasar sekunder, serta ketersediaan emiten berfundamental kuat yang memiliki rekam jejak pembagian dividen yang stabil.

Dari sisi regulasi, Budi menyebut dukungan yang dibutuhkan bukan sekadar menaikkan batas alokasi investasi, melainkan penyediaan fleksibilitas taktis pada koridor batas alokasi. Hal itu perlu dilakukan agar pengelola memiliki ruang gerak yang lincah saat mereposisi portofolio merespons gejolak likuiditas. 

"Selain itu, penguatan penerapan strategi alokasi berbasis profil usia atau life cycle fund, serta efisiensi transaksi di pasar modal turut menjadi pendorong kesiapan industri," ungkap Budi. 

Baca Juga: Ini Tantangan & Peluang yang Pengaruhi Kinerja RoI Dana Pensiun hingga Akhir Tahun

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News