Porsi Pendanaan dari Institusi Luar Negeri Turun, Ini Penjelasan Adira Finance



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Nilai tukar Rupiah masih belum menunjukkan penguatan terhadap valuta asing, termasuk Dolar Amerika Serikat (AS). Hal itu berpotensi memberikan dampak terhadap pendanaan multifinance yang berbasis valuta asing.

Adapun fluktuasi nilai tukar juga berdampak terhadap pendanaan PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk (Adira Finance/ADMF) dari institusi luar negeri. Chief Financial Officer Adira Finance Sylvanus Gani mengatakan per akhir kuartal III-2026, besaran presentase pendanaan dari institusi luar negeri relatif turun dari 10% menjadi 8% terhadap overall pendanaan perusahaan.

Dia menyebut hal itu karena semua pendanaan offshore selalu dibarengi dengan hedging atau lindung nilai.


Baca Juga: OJK Beri Izin Usaha Penyelenggara Agregasi Jasa Keuangan PT Sarana Pasar Digital

"Dengan demikian, fluktuasi nilai tukar tidak berdampak pada laba rugi perusahaan," ujarnya kepada Kontan, Rabu (4/11/2026).

Secara keseluruhan, Gani mengatakan keputusan pendanaan dari institusi luar negeri dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi pasar, kebutuhan likuiditas, serta biaya pendanaan yang kompetitif. 

Namun, Gani menyebut situasi yang kurang bersahabat pada masa-masa saat ini, harus disikapi dengan melakukan diversifikasi sumber dana. 

Oleh karena itu, dia menerangkan perusahaan akan terus mengoptimalkan diversifikasi sumber pendanaan ke depannya, melalui kombinasi pinjaman perbankan, obligasi, sukuk, serta joint financing dengan Bank Danamon dan induk perusahaan.

Dengan demikian, Gani mengatakan perusahaan dapat menjaga fleksibilitas dalam mengelola struktur pendanaan, sekaligus memastikan ketersediaan sumber pendanaan yang optimal untuk mendukung keberlanjutan bisnis.

Baca Juga: Porsi Pendanaan Berbasis Valuta Asing Turun, Ini Penjelasan BFI Finance

Asal tahu saja, berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), pendanaan industri multifinance masih didominasi perbankan.  

Per Juni 2026, pendanaan dari bank mencapai Rp 283,49 triliun atau porsinya 74,33% terhadap total pendanaan industri yang sebesar Rp 381,39 triliun. Adapun surat berharga yang diterbitkan menjadi kontributor kedua dengan nilai mencapai Rp 72,16 triliun. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News