Portofolio September Beragam, AUD Melaju Saat Rupiah & SBN Tertekan



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja portofolio investasi sepanjang September 2026 bergerak bervariasi dengan kejutan lonjakan tajam Dolar Australia (AUD) serta pemulihan aset kripto, di tengah tekanan yang membayangi pasar saham domestik dan pasar obligasi.

Data kinerja portofolio menunjukkan AUD/IDR memimpin penguatan valas sebesar 12,59% secara bulanan (month on month/MoM) pada September 2026 hingga menyentuh Rp 14.281,96, sementara aset kripto seperti Ethereum dan Bitcoin mencetak imbal hasil tertinggi masing-masing 8,72% dan 7,62% MoM.

Di sisi lain, komoditas emas dan pasar saham domestik mencatatkan kinerja terpuruk sepanjang September. Emas spot terkoreksi paling dalam hingga -6,58% MoM menjadi US$ 4.186,7 per ons troi, disusul Emas Antam yang melemah -2,81% MoM ke Rp 2.595.000 per gram.


Baca Juga: Penjualan ICBP Juli-Agustus Tumbuh 11%, Tapi Harga Bahan Baku Mulai Tekan Margin

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turut tertekan -6,96% MoM ke level 6.071,13. Sementara itu, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS (USD/IDR) merosot 0,97% MoM menjadi Rp 17.894 per dolar AS, melengkapi akumulasi pelemahan sebesar 7,74% sejak awal tahun.

Ekonom CORE Indonesia Yusuf Rendy Manilet menjelaskan bahwa secara akumulatif sejak awal tahun (year to date/YtD), rupiah memang tertekan cukup dalam terhadap dolar Australia hingga kurs AUD/IDR menembus level psikologis.

Keunggulan dolar Australia sepanjang tahun ditopang oleh kebijakan moneter Reserve Bank of Australia (RBA) yang agresif menaikkan suku bunga hingga 4,60% demi menahan inflasi energi, ditambah status Australia sebagai eksportir energi.

Sebaliknya, posisi Indonesia sebagai importir minyak memperbesar kebutuhan valas domestik di tengah defisit neraca pembayaran.

Selain tekanan pada nilai tukar, transmisi kenaikan suku bunga global juga memicu penyesuaian imbal hasil (yield) pada pasar surat utang.

Dalam satu bulan, imbal hasil SBN tenor 10 tahun naik 11,6 basis poin menjadi 7,106%.

Kendati kenaikan tersebut relatif lebih terbatas ketimbang US Treasury, penyempitan selisih imbal hasil tetap menggerus daya tarik SBN bagi pemodal asing yang tercermin dari penurunan nilai penawaran lelang dari Rp 60,9 triliun menjadi Rp 42,8 triliun.

"Untuk USD/IDR, konsensus pasar mulai mengarah ke kisaran Rp18.000. Skenario dasar berada di sekitar Rp17.800 sampai Rp18.000, dengan perkiraan mendekati Rp17.980 pada kuartal keempat," kata Yusuf kepada Kontan, Kamis (1/10/2026).

Baca Juga: Harga Emas Antam Hari Ini (2/10): Turun Rp 5.000 Jadi Rp 2.576.000 per Gram

Di pasar surat utang swasta, imbal hasil obligasi korporasi per 9 September masih bertahan 101 hingga 177 basis poin lebih tinggi dibandingkan dengan akhir 2025. Kendati demikian, kinerja obligasi korporasi sepanjang September masih mampu mencetak imbal hasil positif tipis sebesar 0,39% MoM.

Yusuf memperkirakan total penerbitan obligasi korporasi pada kuartal IV 2026 akan berkisar antara Rp 24 triliun hingga Rp 33 triliun, yang didominasi oleh perusahaan berperingkat tinggi seperti AAA dan AA untuk kebutuhan pembiayaan kembali (refinancing).

"Pasar surat berharga negara sejauh ini masih cukup tangguh, tetapi ruang penahannya mulai berkurang," ujar Yusuf.

Menghadapi tingginya risiko durasi dan volatilitas nilai tukar menjelang akhir tahun 2026, instrumen berisiko rendah hingga sedang menjadi portofolio yang paling layak dilirik investor.

SBN tenor pendek dua hingga lima tahun dinilai relatif lebih aman dari guncangan imbal hasil, sementara instrumen obligasi korporasi berperingkat kredit kuat (AAA dan AA) serta pemanfaatan diversifikasi valas dapat menjadi pilihan taktis untuk menjaga ketahanan portofolio investasi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News