Poseidon, senjata nuklir hari kiamat milik Rusia yang bikin Amerika gentar



KONTAN.CO.ID - Dua senjata strategis Rusia yang menggendong hulu ledak nuklir membuat Amerika Serikat (AS) gentar. Kedua senjata itu: rudal jelajah Burevestnik dan kapal selam tak berawak Poseidon.

Mengutip The Moscow Times, utusan Khusus Presiden Amerika Serikat (AS) untuk Kontrol Senjata, Selasa (21/7) lalu, mengatakan, Rusia harus berhenti mengembangkan rudal jelajah bertenaga dan berhulu ledak nuklir.

Sementara dalam kicauan di akun Twitter-nya pada awal Juli lalu, Billingslea menyatakan, AS melihat Burevestnik dan Poseidon sebagai "konsep mengerikan" yang harus Rusia tangguhkan.


Di musim gugur tahun ini atau September nanti, Rusia berencana menguji Poseidon di perairan Kutub Utara. Melansir The Moscow Times, drone bawah air yang bertenaga nuklir akan menjalani uji coba dan meluncur dari kapal selam Belgorod.

Baca Juga: Ini dua senjata nuklir Rusia yang bikin Amerika Serikat gentar

Rusia membuat drone berbentuk seperti torpedo raksasa untuk membawa hulu ledak nuklir seberat hingga dua megaton. Analis senjata menyebutnya sebagai "senjata nuklir hari kiamat". 

Mendapat dukungan reaktor nuklir kecil, Poseidon memiliki jangkauan 10.000 kilometer untuk mengarungi lautan dunia. Meluncur dari Laut Barents atau perairan lain di Kutub Utara, drone bawah air tersebut bisa melintasi Atlantik Utara. 

Jika diledakkan di lepas pantai timur Amerika Serikat (AS), hulu ledak nuklir yang Poseidon bawa bisa menciptakan gelombang tsunami setinggi puluhan meter di samping kerusakan yang disebabkan oleh ledakan nuklir itu sendiri.

Maret 2019, Presiden Rusia Vladimir Putin mengonfirmasi keberadaan drone bawah air raksasa. Poseidon adalah salah satu dari enam senjata nuklir strategis baru negeri beruang merah.

Baca Juga: AS: Rusia harus setop pengembangan Chernobyl terbang, rudal jelajah nuklir

Putin mengungkapkan, Poseidon dilengkapi dengan muatan konvensional dan nuklir serta bisa menghancurkan fasilitas infrastruktur musuh, kapal induk, dan target lainnya.

Pada Juli 2019, Departemen Pertahanan Rusia merilis sebuah video yang menunjukkan fasilitas tempat drone itu dirakit, dan sebuah film animasi yang menunjukkan bagaimana drone digunakan dalam situasi perang yang sebenarnya.

“Drone memiliki beberapa keunggulan. Kapal selam dengan awak di atas kapal, tentu saja, adalah senjata yang kuat, tetapi ada batasan tertentu pada faktor manusia," kata mantan Kolonel Direktorat Intelijen Utama (GRU) Rusia Alexander Zhilin. 

Editor: S.S. Kurniawan