Posisi Direksi dan Komisaris Baru Bank BUMN Dikocok Ulang, Begini Formasinya



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bank pelat merah ramai-ramai merombak susunan direksi hingga komisaris pada tahun ini. Pergantian tersebut telah dilaksanakan sesuai dengan keputusan para pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST).

Sejumlah bank anggota Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) yang sudah melakukan pergantian direksi dan komisaris yakni PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) hingga PT Bank Mandiri Tbk (BMRI).

BRI misalnya, bank yang fokus pada kredit wong cilik ini ini tidak mengganti jajaran direksinya, namun hanya mengganti satu Komisaris Independennya, yakni Hendrikus Ivo yang telah menduduki posisi jabatan tersebut sejak tahun 2019 dan memutuskan mengangkat Haryo Baskoro Wicaksono sebagai penggantinya.


Baca Juga: Gelar RUPS, Bank Mandiri Merombak Posisi Direksi dan Komisaris

Haryo bukanlah orang baru di lingkungan BRI dan perusahaan BUMN. Pada tahun 2019, dia juga pernah menjabat sebagai Komisaris Independen BRI. 

Sementara itu di lingkungan perusahaan BUMN, Haryo juga saat ini menjabat sebagai komisaris di PT Transportasi Gas Indonesia (Transgasindo), anak usaha Perusahaan Gas Negara (PGN) sejak November 2023 lalu. 

Di sisi  lain, saat ditelusuri lagi ternyata Haryo juga saat ini sampai tahun 2023 lalu memegang jabatan di PT KB Syariah Bukopin sebagai Kepala Departemen Perencanaan Strategi dan Transformasi, serta juga menjabat di PT Bank Muamalat Tbk sebagai Head of Transformation and Subsidiaries Management, namun tidak diketahui apakah dirinya masih menjabat hingga saat ini atau tidak.

Sementara di bidang pengawasan, Haryo juga pernah menjabat sebagai Deputy Commissioner of Investigation, Organization and HR of the Financial Services Authority di Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada tahun 2017, dan kemudian kembali menjabat sebagai Senior Advisor, Head of Board of Commissioner OJK pada 2018 sampai saat ini.

Lanjut ke bank Himbara lainnya, ada Bank Mandiri yang merombak besar-besaran direksi hingga komisarisnya. Namun pada posisi direksi, Bank Mandiri tetap mengambil dari orang lama di lingkungan Bank Mandiri untuk mengisi kekosongan direksinya. Beda halnya dengan posisi komisaris.

Pada posisi direksi, Pemegang saham perseroan mengubah susunan direksi dengan mengangkat Danis Subyantoro untuk mengisi posisi Direktur Manajemen Risiko. Mengingat, posisi tersebut telah ditinggalkan Ahmad Siddik Badruddin sejak 31 Januari 2024 dan mendapat penugasan baru menjadi Direktur Manajemen Risiko di PT Pertamina. 

Danis merupakan orang lama yang sudah mengabdi di Bank Mandiri sebagai SEVP Internal Audit Bank Mandiri. Tidak jauh berbeda dengan Totok Priyambodo yang diangkat menjadi Direktur Commercial Banking Bank Mandiri, Totok juga sebelumnya menjabat SEVP Commercial Banking di bank berlogo pita emas ini.

Adapun posisi Riduan hanya bergeser menjadi Direktur Corporate Banking dari sebelumnya menempati posisi Direktur Commercial Banking Bank Mandiri.  

Pada posisi komisaris, pemegang saham mengangkat Tedi Bharata dan memberhentikan Nawal Nely dan Andrinof A. Chaniago. 

Selanjutnya Zainudin Amali juga diangkat menjadi Wakil Komisaris Utama Bank Mandiri. Asal tahu saja Zainuddin diketahui merupakan politikus senior partai Golkar dan juga Wakil Ketua PSSI. 

Dia juga dikenal sebagai pengusaha dan pernah dikaitkan dengan dua kasus korupsi di KPK, tepatnya kasus suap sengketa pemilihan Gibernur Jawa Timur pada 2014 dan telah menyeret namanya.

Baca Juga: Putrama Wahju Setyawan Jadi Wakil Direktur Utama BNI

Kasus lainnya yang pernah menyeret namanya dalah soal pengurusan sengketa pemilihan kepala daerah, dimana pada saat itu KPK menduga ada negosiasi terkait adanya permintaan sejumlah uang Rp 10 miliar, namun hal itu sudah dibantahnya kala itu.

Sementara itu BNI nampaknya menjadi bank yang paling banyak merombak susunan direksinya tahun ini. Namun pergantian tersebut hanya menggeser posisi penugasann para direksi dan juga pergantian personil antara BNI dengan BTN. 

Pada posisi direksi misalnya, pemegang saham menunjuk Putrama Wahju Setyawan sebagai Wakil Direktur Utama dari sebelumnya menduduki posisi Direktur Retail Banking BNI. Posisinya saat ini menggantikan Adi Sulistyowati yang pindah tugas menjadi Komisaris Independen di BTN.

Pemegang saham juga mengalihkan penugasan Corina Leyla Karnalies menjadi Direktur Retail Banking BNI dari sebelumnya menjabat sebagai Direktur Digital & Integrated Transaction Banking BNI.

Sementara, Hussein Paolo Kartadjoemena diangkat sebagai Direktur Digital & Integrated Transaction Banking BNI menggantikan Corina. Hussein Sebelumnya menjabat sebagai SEVP of Corporate Development & Transformation BNI.

Posisi Direktur Wholesale & International Banking BNI diisi oleh Agung Prabowo yang sebelumnya menjabat sebagai Direktur Utama BNI Sekuritas. Posisi Agung saat ini menggantikan Silvano Winston Rumantir yang mengundurkan diri dari jabatannya.

Adapun Direktur Institutional Banking BNI saat ini diisi Munadi Herlambang, mengingat Direktur sebelumnya Muhammad Iqbal pindah tugas menjadi Direktur SME dan Ritel Funding BTN.

Pemegang saham juga mengangkat I Made Sukajaya sebagai Direktur Enterprise & Commercial Banking BNI menggantikan Sis Apik Wijayanto. Sebelumnya, Made menjabat sebagai SEVP Remedial & Recovery BNI.

Adapun di BTN, pada posisi komisaris, pemegang saham mengangkat Bambang Wijanarko dan Adi Sulistyowati menjadi Komisaris Independen untuk mengisi dua kekosongan pada posisi komisaris.

Pasalnya Mohamad Yusuf Permana yang sebelumnya Komisaris BTN dan juga Mantan Kepala Biro Protokol Sekretariat Presiden ini diangkat sebagai komisaris BNI, serta satu posisi untuk mengisi komisaris independen BTN yang telah meninggal dunia pada Agustus 2023 lalu.

Untuk posisi direksi, pemegang saham mengusulkan satu posisi direksi baru yaitu Direktur SME dan Ritel Funding. Posisi tersebut diisi oleh M. iqbal yang sebelumnya merupakan direktur BNI.

Baca Juga: Kinerja di 2023 Moncer, BRI Tebar Dividen Rp 48,1 Triliun

Senior Faculty Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Amin Nurdin menilai, para direksi dan komisaris bank-bank pelat merah yang telah ditunjuk dan diangkat mengisi jabatan direksi dan komisaris, sudah barang pasti telah melihat berbagai pertimbangan termasuk kompetensi dan pengalamannya di bidang terkait.

"Saya dilihat untuk keseluruhan Bank Himbara, orang-orang yang ditunjuk menempati posisi komisaris misalnya, mereka sudah memiliki pengalaman lama sekali di perbankan, rata-rata lebih dari 20 tahun, bahkan ada yang sudah 30 tahun, jadi dapat dikatakan mereka sudah bisa melakukan pengawasan di perbankan," kata dia kepada Kontan, Kamis (8/3).

Pengamat pasar modal dan Guru Besar Ekonomi Universitas Indonesia Budi Frensidy mengatakan, untuk posisi direksi haruslah orang yang sesuai kompetensi dan pengalamannya. 

"Untuk dewan komisaris, jika ada 1 atau 2 orang yang tidak sesuai mestinya biasa. Tapi jika banyak, ini bisa menimbulkan sentimen negatif pasar dan masalah tata kelola yang serius juga," kata dia kepada Kontan, Kamis (8/3).

Selanjutnya: Bank Permata Incar Kredit Tumbuh 7%-9%

Menarik Dibaca: 4 Cara Menghapus Lipstik dengan Benar agar Bersih Maksimal

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Herlina Kartika Dewi