KONTAN.CO.ID - Posisi Benjamin Netanyahu untuk mempertahankan jabatannya sebagai Perdana Menteri Israel menghadapi tekanan setelah salah satu partai ultra-Ortodoks Yahudi menolak memberikan dukungan kepada kandidat mana pun. Sementara itu, dua partai yang mewakili kelompok Arab justru menyatakan dukungan kepada pesaing utamanya, Gadi Eisenkot. Presiden Israel Isaac Herzog dijadwalkan bertemu dengan Netanyahu dan Eisenkot pada Kamis (5/11) malam waktu setempat.
Pertemuan tersebut menjadi bagian dari proses penentuan kandidat yang akan diberi mandat untuk membentuk pemerintahan baru.
Baca Juga: Harga Nikel Dunia Melonjak 3%, Penertiban Tambang di Indonesia Jadi Pemicunya Herzog memiliki waktu hingga 11 November untuk menentukan pilihannya setelah sebelumnya menggelar konsultasi dengan sejumlah partai kecil. Pemilu Israel pada 27 Oktober lalu berakhir tanpa menghasilkan mayoritas yang jelas bagi kedua kubu. Kondisi ini membuat proses pembentukan pemerintahan baru menjadi rumit di tengah perpecahan politik yang masih berlangsung di negara tersebut. Meski Netanyahu berhasil melampaui ekspektasi dalam pemilu dan Partai Likud yang dipimpinnya memperoleh kursi terbanyak, koalisi nasionalis-religius pendukungnya kehilangan mayoritas di parlemen. Pada Kamis, posisi Netanyahu semakin menghadapi tantangan setelah United Torah Judaism, salah satu dari dua partai besar yang mewakili pemilih Yahudi ultra-Ortodoks sekaligus sekutu lama koalisi Netanyahu, memutuskan tidak merekomendasikan kandidat mana pun untuk membentuk pemerintahan. Sebaliknya, dua partai yang mewakili kelompok Arab Israel menyatakan dukungan kepada Eisenkot.
Baca Juga: Cristiano Ronaldo Pensiun dari Timnas Portugal, Ini Rekor dan Perjalanan Kariernya Dukungan tersebut membuat Eisenkot memperoleh sokongan dari mayoritas anggota parlemen, meskipun ia maupun Netanyahu sebelumnya sama-sama menutup kemungkinan membentuk pemerintahan bersama kedua partai Arab tersebut. Herzog Minta Partai Hindari Pemilu Ulang Herzog dijadwalkan menggelar pertemuan terpisah dengan Eisenkot dan Netanyahu di kediamannya di Yerusalem pada Kamis malam. Pertemuan tersebut mengakhiri rangkaian konsultasi dengan partai-partai politik yang dimulai sejak Rabu setelah hasil resmi pemilu diumumkan. Herzog meminta seluruh partai berupaya maksimal untuk menghindari penyelenggaraan pemilu ulang. "Setiap orang yang berpikiran rasional hanya perlu melihat tantangan keamanan dan diplomatik yang kita hadapi, perubahan kawasan di sekitar kita, serta mengingat persoalan yang memecah belah kita dari dalam, untuk memahami bahwa tanggung jawab besar berada di pundak kita," kata Herzog.
Baca Juga: Demokrat Kuasai Kongres AS, Bank Wall Street Hadapi Pengawasan Ketat Dalam pemilu tersebut, Likud menjadi partai dengan perolehan kursi terbanyak, yakni 27 dari total 120 kursi di parlemen Israel (Knesset). Namun, koalisi nasionalis-religius yang mendukung Netanyahu hanya mengumpulkan 53 kursi. Sementara itu, koalisi anti-Netanyahu yang dipimpin Eisenkot dan terdiri dari empat partai Yahudi berhaluan tengah-kiri hingga kanan memperoleh 48 kursi. Adapun dua partai yang mewakili kelompok minoritas Arab Israel secara keseluruhan mengamankan 19 kursi, jumlah yang belum pernah terjadi sebelumnya. Netanyahu Dituding Pertanyakan Hasil Pemilu Di tengah risiko kehilangan kekuasaan, Netanyahu menyoroti penyelidikan otoritas pemilu terkait dugaan manipulasi suara untuk mempertanyakan hasil pemungutan suara. Ia menuding partai-partai yang dipimpin kelompok Arab telah mencuri suara dalam pemilu tersebut. Namun, tudingan itu dibantah oleh para pengkritiknya yang menilai Netanyahu dan sekutunya berupaya merusak kepercayaan terhadap hasil pemilu. Netanyahu sendiri membantah tuduhan tersebut.
Baca Juga: Uni Eropa Suntik Dana Besar untuk Kejar Ketertinggalan Industri Cip Komite Pemilihan Umum Pusat Israel pada Rabu menyatakan integritas pemilu tidak terganggu. Ketua komite yang juga Hakim Mahkamah Agung, Noam Sohlberg, meminta para pejabat terpilih menjaga kepercayaan publik, bukan justru mengguncangnya. "Ini merupakan bahaya nyata. Salah satu fondasi demokrasi adalah peralihan kekuasaan secara damai," kata Sohlberg kepada Herzog di kediamannya pada Rabu. Ia juga menyebut tingginya partisipasi pemilih, termasuk dari kelompok minoritas Arab, sebagai hal positif bagi demokrasi Israel. Di sisi lain, sejumlah sekutu Netanyahu dari kelompok sayap kanan jauh, termasuk Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben-Gvir, mendesak agar para pemimpin partai Arab segera ditangkap dan diperiksa.