KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Di tengah ketidakpastian global dan dinamika geopolitik, penguatan kerja sama ekonomi berbasis nilai semakin relevan. Salah satu sektor yang kian mendapat perhatian adalah industri halal. Industri ini tidak hanya tumbuh pesat, tapi juga dinilai memiliki potensi besar sebagai pendorong pertumbuhan ekonomi baru. Nah, B57+ hadir sebagai forum bisnis yang menghubungkan negara-negara anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) dengan mitra non-OKI. Fokusnya pada penguatan perdagangan, investasi, dan kolaborasi ekonomi lintas kawasan. Platform ini digerakkan oleh sektor swasta untuk memperkuat konektivitas bisnis di antara negara-negara tersebut.
Melalui B57+ Asia Pacific Regional Chapter, forum ini membidik industri halal sebagai langkah konkret untuk mendorong Indonesia menjadi motor penggerak ekonomi halal dunia. Upaya ini ditandai melalui pertemuan yang dihadiri Menteri Agama Nasaruddin Umar, Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya, Ketua Umum B57+
Asia Pacific Regional Chapter Arsjad Rasjid, serta sejumlah perwakilan duta besar negara anggota B57+. Termasuk Duta Besar Uni Emirat Arab untuk Indonesia Abdulla Salem Al Dhaheri. Pertemuan tersebut juga melibatkan organisasi masyarakat Islam dan para ekonom, dengan fokus pada penguatan ekonomi halal dan peran strategis Indonesia di tingkat global. Nasaruddin Umar menilai, peluncuran B57+ Asia Pacific Regional Chapter sebagai tonggak penting membangun platform kolaborasi ekonomi lintas negara. “Saya optimistis, Islamic Economic Multilateralism, dalam hal ini B57+ Asia Pacific Chapter, mampu menghadapi tantangan berdasarkan pengalaman menghadapi krisis sebelumnya,” kata Nasaruddin, dalam keterangannya, Rabu (22/4).
Baca Juga: Airlangga Pastikan Aspek Halal Tetap Terjaga dalam Perjanjian Dagang RI-AS Menurutnya, ekonomi halal kini telah berkembang melampaui aspek keagamaan dan menjadi kekuatan ekonomi global yang signifikan. “Sektor makanan halal, keuangan syariah, kosmetik, hingga halal lifestyle kini menjadi arus utama ekonomi dunia,” ujarnya. Sejalan dengan itu, Arsjad menilai, di tengah kondisi global yang penuh ketidakpastian, diperlukan platform yang mampu memperkuat kepercayaan dan konektivitas antarnegara. “Salah satu pasar yang paling siap dan potensial adalah ekonomi halal,” jelas Arsjad. Pootensi ekonomi halal global diproyeksikan mencapai US$ 9,5 triliun pada 2030, melampaui batas agama, budaya, dan geografi. Namun, potensi tersebut membutuhkan kolaborasi terstruktur dan saling terhubung agar dapat memberikan dampak nyata. Menurutnya, konsep halal kini tidak lagi terbatas pada sektor pangan, tetapi telah berkembang menjadi bagian dari gaya hidup yang menekankan aspek kepercayaan, kualitas, dan integritas.
“Tugas kita menerjemahkan potensi ini menjadi manfaat ekonomi yang nyata. Banyak peluang di antara negara-negara Islam serta para mitranya yang masih memerlukan jembatan kelembagaan dan mekanisme kepercayaan yang lebih kokoh,” ungkap Arsjad. Sebagai bagian dari strategi penguatan jaringan, B57+ Asia Pacific Regional Chapter juga berencana memperluas kehadiran ke sejumlah negara non-OKI. Termasuk kawasan ASEAN seperti Vietnam, serta Australia dan Selandia Baru. Sementara itu, Sekretaris Jenderal B57+ Indonesia, Eka Sastra menekankan. Indonesia memiliki posisi strategis sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia untuk memimpin pengembangan ekonomi halal global. "Tujuan besar ini tidak mungkin kami capai sendiri-sendiri. Upaya ini tentu membutuhkan kolaborasi dan kerjasama,” ujarnya. . Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News