Potensi bisnis muatan angkutan laut Indonesia masih besar



JAKARTA. Asosiasi Pemilik Kapal Indonesia (Indonesian National Shipowners Association/INSA) memproyeksi pertumbuhan muatan angkutan laut Indonesia akan mencapai angka satu miliar ton pada 2015.Ketua Umum Indonesian National Shipowners Association (INSA), Carmelita Hartoto, mengatakan, prediksi itu mengacu proyeksi pertumbuhan muatan kapal rata-rata 7% per tahun.Sepanjang tahun lalu, menurut dia, muatan angkutan laut Indonesia, baik domestik maupun internasional mencapai angka 876,2 juta ton. Sementara pada tahun ini muatan angkutan laut Indonesia diperkirakan mencapai mencapai 937,5 juta ton.Untuk mencapai pertumbuhan muatan sebesar itu memang ada kekhawatiran lantaran dampak krisis ekonomi yang melanda Eropa dan Amerika Serikat (AS). "Jadi meraih 1 miliar ton itu memang merupakan tantangan," katanya. Untuk itu pihaknya berharap agar pemerintah mau memberikan dukungan dalam dunia pelayaran. "Kami mau agar pemerintah juga mendukung seperti misalnya dalam hal perpajakan dan tender," kata Carmelita.

Misalnya saja dalam hal perpajakan, pihaknya meminta pemerintah mempercepat rencana penghapusan pajak pertambahan nilai (PPN) 10% kepada kapal nasional. Pemerintah juga harus memastikan keamanan pelayaran dengan pembentukan coast guard secepatnya.Selain itu, Carmenita juga menyampaikan setidaknya hingga 2020 INSA akan meningkatkan pangsa pasar kapal nasional di sektor pelayaran luar negeri menjadi 20%. "Kita akan mengambil pangsa pasar luar negeri. angka itu akan coba kita raih," kata Carmelita.Selain perlunya kerjasama dari pemerintah juga ada beberapa hal yang masih menjadi tantangan untuk mencapai target tersebut. Seperti, defisit pelaut mencapai ratusan ribu orang, minimnya kapal nasional untuk melayani pelayaran luar negeri, hingga kesiapan kapal khusus di sektor hulu migas.Menurutnya, kebutuhan untuk kapal offshore yang belum terpenuhi untuk melayani kebutuhan minyak lepas pantai masih ada sekitar 80 unit. Pengadaan terus diupayakan terpenuhi hingga 2015. “Armada yang belum terpenuhi itu merupakan kapal-kapal berat seperti untuk pengeboran minyak offshore karena harganya mahal,” kata Carmelita.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Editor: Rizki Caturini