Potensi Ekonomi Masyarakat Adat Mulai Terlihat



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Potensi ekonomi masyarakat adat mulai berkembang. Hal ini terlihat saat Harian Kompas menggelar Pameran Foto “Merangkai Jejak Masyarakat Adat” yang menampilkan kisah kehidupan masyarakat adat di sejumlah wilayah Indonesia. 

Pameran tersebut merupakan bagian dari Jelajah Masyarakat Adat yang dilakukan Harian Kompas sejak November 2025 hingga Juli 2026, mulai dari hutan adat Aceh, kampung pesisir Sulawesi hingga hutan adat Papua.

Pameran tersebut tidak hanya menyoroti peran masyarakat adat dalam menjaga lingkungan, tetapi juga kemandirian mereka di tengah perubahan iklim, ancaman krisis pangan global dan ekspansi ekonomi ekstraktif.


“Banyak hal bisa dipelajari dari masyarakat adat,” kata Pemimpin Redaksi Harian Kompas, Haryo Damardono,  dalam pembukaan pameran di Menara Kompas, Jakarta, Senin (10/8).

Salah satu potensi ekonomi tersebut terlihat dari komoditas masyarakat adat di Indonesia Timur. 

CEO Yayasan EcoNusa, Bustar Maitar, mengatakan nilai perdagangan Kobumi yang berasal dari produk 10 koperasi masyarakat adat dan lokal hampir mencapai US$ 3 juta pada 2025.

“Nilai dagang Kobumi di tahun 2025 itu hampir US$3 juta. Itu hanya dari 10 koperasi yang kita dampingi,” kata Bustar kepada KONTAN. 

Kobumi merupakan socio-eco enterprise yang dibentuk Yayasan EcoNusa bersama 10 koperasi milik masyarakat adat dan lokal di Papua, Papua Barat, Papua Barat Daya, Maluku, dan Maluku Utara.

Kobumi merupakan koperasi multi-pihak untuk mendukung ekonomi berkelanjutan melalui pembelian dan penjualan komoditas serta produk khas Indonesia Timur.

Model tersebut ditujukan untuk meningkatkan daya saing komoditas sekaligus kesejahteraan masyarakat adat dan masyarakat lokal. Dalam praktiknya, koperasi menghasilkan produk yang kemudian dibeli Kobumi melalui skema off-taking untuk dipasarkan.

Bustar mengatakan model tersebut dibangun untuk menjawab persoalan kepastian pasar yang selama ini dihadapi masyarakat adat.

Menurut Bustar, capaian nilai perdagangan Kobumi tersebut baru mencerminkan sebagian kecil potensi ekonomi masyarakat adat. Berbagai komoditas seperti kelapa, rempah dan ikan masih memiliki peluang besar untuk dikembangkan.

Ia mencontohkan kelapa yang banyak terdapat di pulau-pulau dan wilayah pesisir Indonesia Timur. Menurutnya, komoditas tersebut dapat menjadi sumber ekonomi besar jika didukung pengelolaan, transportasi, rantai pasok dan peningkatan nilai tambah.

Selain kelapa, Bustar menyebut rempah dan ikan sebagai komoditas lain yang memiliki potensi ekonomi. Menurutnya, nilai ekonomi berbagai komoditas tersebut perlu dihitung dan divaluasi lebih dalam.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

TAG: