KONTAN.CO.ID – JAKARTA. PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (
ICBP) mencatat penurunan laba bersih pada kuartal I – 2026. Depresiasi rupiah hingga kenaikan harga komoditas diperkirakan menjadi penentu arah kinerja ICBP ke depan. ICBP membukukan pendapatan Rp 21,72 triliun pada kuartal I – 2026, meningkat 8% secara year on year (yoy). Meski begitu, laba bersih ICBP tercatat menurun 3% yoy menjadi Rp 2,57 triliun pada kuartal I – 2026. Putu Chantika Putri, Analis Ciptadana Sekuritas Asia menyoroti penjualan luar negeri ICBP yang tumbuh 13% yoy, didorong oleh permintaan yang kuat di seluruh pasar Asia dan anak usahanya yakni Pinehill (naik 11% yoy). Ini sejalan dengan ekspektasi pertumbuhan perusahaan sekitar 10%.
Sementara wilayah lain seperti Amerika Serikat (AS), Australia, dan Asia non-inti berkinerja lebih baik dengan kenaikan 27% yoy.
Baca Juga: Sarimelati (PZZA) Ekspansi di Luar Pizza, Investasi Bisnis Yoghurt Rp 10,4 Miliar Sementara penjualan domestik naik 6% yoy pada kuartal pertama tahun 2026, tanpa tanda-tanda kelemahan pasca-Lebaran di luar musim yang biasa terjadi, yang sudah tercermin pada kuartal pertama. Ekspansi kapasitas tetap berlangsung untuk mendukung pertumbuhan dan efisiensi jangka panjang, dengan pabrik baru di Bogor (beroperasi sejak Desember 2025) yang berkontribusi pada kapasitas tahun 2026. “Total kapasitas diperkirakan akan tumbuh sekitar 4% pada tahun 2026, sejalan dengan peningkatan serupa pada tahun 2025,” ujar Putu dalam risetnya pada 7 Mei 2026. Putu menambahkan, sikap manajemen yang mengaku tidak ada gangguan terhadap operasional, rantai pasokan, atau permintaan sejauh ini di tengah kondisi geopolitik Timur Tengah. Namun Putu khawatir jika ketegangan geopolitik kembali berlanjut akan menimbulkan hambatan ganda melalui potensi inflasi biaya input dan depresiasi rupiah. Analis NH Korindo Sekuritas Indonesia, Steven Willie mengatakan, pelonggaran tensi geopolitik dapat menawarkan katup pengaman meski waktunya tidak pasti. Sebab itu, pemantauan perkembangan dinamika geopolitik tetap perlu dilakukan dengan cermat. Menurutnya, pelonggaran ketegangan AS-Iran dapat menekan harga minyak mentah, yang pada gilirannya akan melemahkan ekonomi biofuel dan berpotensi mengurangi permintaan minyak sawit sebagai bahan baku biodiesel. “Jika skenario ini terjadi, hal itu dapat memberikan keringanan yang berarti bagi profil biaya input ICBP,” ucap Steven dalam risetnya pada 8 Mei 2026.
Baca Juga: Meredanya Risiko Geopolitik Tekan Harga Minyak, WTI dan Brent Terkoreksi Steven melihat harga minyak kelapa sawit atau crude palm oil (CPO) tetap menjadi faktor yang tidak pasti dalam hal margin. Estimasi pada tahun 2026 Ciptadana Sekuritas Asia sebagian besar tetap tidak berubah, meskipun tekanan margin tetap menjadi risiko utama dalam jangka pendek. Sebab harga CPO sudah naik sekitar 13% secara year to date (ytd) karena adanya mandat biodiesel B50 di Indonesia dan implementasi B15 di Malaysia yang akan efektif 1 Juni (naik dari sebelumnya B10). Dinamika tersebut diperkirakan akan menjaga harga CPO tetap tinggi hingga semester II – 2026. Beban tekanan biaya ICBP diperkirakan bertambah dengan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS karena mata uang yang lebih lemah meningkatkan biaya impor dalam denominasi dolar AS. Terutama untuk kebutuhan gandum yang notabene merupakan bahan baku utama untuk segmen mie ICBP. “Bersama-sama, dua hambatan ini, harga CPO yang tinggi dan rupiah yang lebih lemah memperkuat pandangan kami bahwa pemulihan margin yang signifikan tidak mungkin terjadi dalam waktu dekat,” jelas Steven. Di sisi lain, Analis MNC Sekuritas, Catherine Florencia bilang, tekanan margin pada kuartal I – 2026 hanya sebagai tahap awal dari siklus biaya yang lebih berat. Karena keranjang biaya ICBP tetap sangat terpapar pada harga gandum, minyak nabati, kentang, pengemasan, logistik, dan nilai tukar rupiah. Cadangan persediaan bahan baku ICBP selama 3-6 bulan seharusnya menunda dampak langsung terhadap laba rugi, tetapi hal itu juga dapat berarti lonjakan harga komoditas saat ini menjadi lebih terlihat mulai kuartal III – 2026 dan seterusnya. “Kami mengantisipasi kombinasi biaya input yang lebih tinggi dan tekanan nilai tukar mata uang asing dapat membatasi pemulihan margin pada sembilan bulan pertama tahun 2026,” ucap Catherine saat dikonfirmasi, Kamis (25/6/2026).
Catherine mengatakan, posisi keuangan ICBP tetap sensitif terhadap depresiasi rupiah, mengingat total utang yang didanai sebesar Rp 47,7 triliun pada kuartal pertama tahun 2026, termasuk obligasi US$ 2,8 miliar, dengan utang mata uang asing menyumbang sekitar 97% dari total utang yang didanai. Rasio cakupan bunga juga sedikit menurun menjadi 8,4 kali pada kuartal pertama tahun 2026 (dibandingkan 8,6 kali pada tahun fiskal 2025).
“Kami mengantisipasi Interest Coverage Ratio (ICR) dapat tetap berada di bawah tekanan jika Laba Sebelum Bunga dan Pajak (EBIT) tetap tertekan sementara volatilitas nilai tukar mata uang asing dan biaya pembiayaan terus berlanjut,” jelas Catherine. Steven memproyeksikan, pendapatan dan laba bersih ICBP tahun 2026 masing – masing mencapai Rp 78,59 triliun dan Rp 9,36 triliun. Adapun pada tahun 2025, ICBP mengantongi pendapatan Rp 74,85 triliun dan laba bersih Rp 9,22 triliun. Steven, Putu, dan Catherine sama-sama merekomendasikan
hold saham ICBP dengan target harga masing – masing Rp 6.850 per saham, Rp 7.500 per saham, dan Rp 7.500 per saham. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News