Potensi Kenaikan Harga Pakan, Simak Rekomendasi Saham Charoen Pokphand (CPIN)



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) membukukan kinerja positif pada kuartal I – 2026. Harga bahan baku hingga faktor permintaan diperkirakan menjadi penentu kinerja CPIN hingga akhir tahun. 

Abdusshomad Cakra Buana, Analis Bahana Sekuritas mengatakan, CPIN berada pada posisi yang relatif baik terhadap depresiasi rupiah meskipun memiliki eksposur bahan baku yang terkait dengan dolar Amerika Serikat (AS). Khususnya bungkil kedelai yang menyumbang sekitar 25% dari biaya pakan.

Meski rupiah telah terdepresiasi sekitar 5% secara year to date (ytd) per 15 Mei 2026 dengan tanda-tanda terbatas untuk kembali ke kisaran Rp 16.000 – Rp 16.500 per dolar AS, risiko nilai tukar CPIN dapat diredam oleh neraca keuangannya yang terjaga.


Hal ini didukung oleh posisi kas bersih dalam denominasi dolar AS sebesar Rp 182 miliar pada kuartal I – 2026. 

“Sehingga relatif kurang terekspos dibandingkan dengan perusahaan sejenis seperti JPFA yang masih memiliki posisi utang bersih dalam dolar AS sebesar Rp 3,6 triliun,” ujar Abdusshomad dalam risetnya pada 15 Mei 2026. 

Baca Juga: Bakal IPO, Bach Multi Global (BACH) Incar Dana Segar Rp 307 Miliar

Namun demikian Abdusshomad menyoroti impor soybean meal (SBM) atau bungkil kedelai terpusat melalui Berdikari mulai terwujud di seluruh industri sejak April 2026.

Meski CPIN belum memberikan panduan resmi, manajemen menyoroti dua kemungkinan skema. Yakni mengimpor langsung melalui Berdikari atau pengadaan secara independen sambil membayar biaya kepada Berdikari.

Abdusshomad bilang, CPIN lebih memilih opsi yang kedua mengingat risiko pengiriman yang lebih rendah meskipun biaya tunai masih lebih tinggi. 

“Karena persediaan pakan ternak diperkirakan akan tetap mencukupi hingga Mei, kami memperkirakan dampaknya akan mulai masuk ke pembukuan CPIN mulai Juni dan seterusnya, berpotensi meningkatkan biaya tunai SBM tahun 2026 sebesar 17% secara year on year (yoy),” ucap Abdusshomad.  

Sementara itu, Analis UBS Sekuritas Indonesia, Alex Manoonpol melihat CPIN yang memperkirakan normalisasi pengeluaran rumah tangga pasca lebaran akan mendorong penurunan harga.

Akan tetapi menekankan bahwa program makan bergizi gratis (MBG) pemerintah memberikan dasar permintaan struktural, mengurangi risiko koreksi tajam kembali ke titik terendah sebelumnya yang sekitar Rp 16.000 per kilogram (kg) pada tahun 2025.

Panduan pertumbuhan volume dipertahankan sekitar 10% untuk tahun fiskal 2026, didorong oleh konsumsi unggas yang stabil dan paparan tidak langsung terhadap permintaan MBG. Sementara daya beli tetap menjadi kendala untuk pertumbuhan yang lebih cepat dalam makanan olahan. 

“Meskipun harga ayam broiler di Jawa Barat mengalami sedikit penurunan dibandingkan akhir Maret Rp 23.418 per kg, harga tersebut masih jauh di atas biaya impas, yaitu sekitar Rp 21.400 per kg,” terang Abdusshomad. 

Di sisi lain, berdasarkan pengamatan KB Valbury Sekuritas, panen utama jagung lokal pada Maret 2026 – April 2026 tidak sesukses tahun lalu atau lebih rendah dari tahun sebelumnya.

Baca Juga: Menanti Keputusan MSCI, Rupiah Melemah ke Rp 17.843 per Dolar AS

Sementara itu, harga SBM impor terus meningkat karena harga jual rata – rata nya (ASP) telah mencapai US$ 336,4 per ton, di tengah depresiasi rupiah terhadap dolar AS, meskipun masih lebih rendah dari ASP 5 tahun terakhir sebesar US$ 370,5 per ton. 

Selain itu, semua pelaku industri unggas, termasuk CPIN, harus mematuhi persyaratan terbaru pemerintah mulai April 2026, yang mengharuskan semua pelaku industri unggas untuk mendapatkan SBM melalui PT Berdikari (ID Food).

Oleh karena itu, KB Valbury Sekuritas mengantisipasi kinerja yang lebih lemah dari CPIN pada kuartal kedua dan kuartal ketiga tahun 2026. 

“Pelemahan kinerja ini kemungkinan karena penurunan permintaan ayam dan harga jual rata-rata (ASP), lebih sedikit hari raya besar dan tekanan margin yang lebih tinggi diperkirakan terjadi pada kuartal kedua dan ketiga tahun 2026,” ujar Analis KB Valbury Sekuritas Andre Suntono saat dikonfirmasi, Senin (22/6/2026).

Alex bilang, risiko CPIN ke depan meliputi harga bahan baku yang lebih tinggi seperti jagung dan bungkil kedelai, harga unggas yang lebih rendah, depresiasi rupiah, dan permintaan unggas yang lebih rendah. 

Selain itu, risiko spesifik industri meliputi pemulihan konsumsi yang lebih lambat dari perkiraan dan perubahan kondisi ekonomi, perubahan tren demografis, tren yang meningkat menuju daging nabati, wabah penyakit, bencana alam, peraturan pemerintah tentang tindakan pemusnahan, dan peraturan tentang penggunaan bahan kimia, serta dukungan pemerintah untuk harga unggas. 

Meski begitu, Abdusshomad memperkirakan pendapatan CPIN akan tetap berada pada tren kenaikan, meskipun ekspansi margin mungkin akan melambat pada tahun 2026. Pandangan tersebut didukung oleh pemulihan yang lebih struktural di segmen makanan olahan, bersamaan dengan harga unggas yang kemungkinan akan tetap tinggi.

Namun, potensi peningkatan margin mungkin dibatasi oleh biaya tunai SBM yang lebih tinggi dan potensi tekanan harga jagung dari kemungkinan dampak El Niño pada semester II – 2026. 

“Pada tahun 2027, kami memperkirakan peningkatan skala ekonomi dari pabrik baru CPIN di Sulawesi akan memberikan dukungan tambahan,” kata Abdusshomad. 

 
CPIN Chart by TradingView

Abdusshomad memproyeksikan pendapatan dan laba bersih CPIN tahun 2026 masing – masing mencapai Rp 76,64 triliun dan Rp 6,08 triliun. Adapun pada tahun 2025 CPIN mengantongi pendapatan Rp 70,70 triliun dan laba bersih Rp 5,64 triliun. 

Abdusshomad, Alex, dan Andre merekomendasikan buy saham CPIN dengan target harga masing – masing Rp 6.500 per saham, Rp 6.200 per saham, dan Rp 5.250 per saham.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News