Mainan koleksi yang dibuat terbatas dan eksklusif memiliki peminat tersendiri. Mainan yang kerap disebut
art toys ini biasanya diminati kolektor mainan dari kalangan menengah ke atas. Sebab, harganya cukup mahal. Potensi cuannya juga lumayan menarik. Mainan berbentuk tokoh atau figur (
figure) selalu identik dengan anak kecil. Namun ternyata banyak juga orang dewasa yang tertarik dengan mainan figur untuk dijadikan koleksi. Ini biasa disebut
art toys. Bentuk mainan boneka tiga dimensi ini umumnya tidak banyak ditemui di pasaran sebab perancang mainan (
designer toys) hanya membuat
art toys dalam jumlah terbatas. Produk ini biasanya dikategorikan dalam beberapa jenis berdasarkan bahan baku pembuatannya dan karakter mainan itu sendiri. Ada
art toys yang lebih modern dengan penggunaan warna yang cerah, ada pula
art toys yang berwarna cenderung gelap. Bentuk dan ukurannya pun beragam, misalnya bertema futuristik atau boneka hewan. Semua tergantung selera dan ide si perancang mainan.
Para perancang
art toys ini umumnya memiliki latar belakang dalam bidang desain grafis. Bahan baku pembuatannya menggunakan media
soft vinyl dan karet. Media alternatif lain yang dapat digunakan untuk membuat
art toys adalah resin, kayu dan logam. Andri Widjaja atau yang akrab disebut Kong Andri, salah satu perancang
art toys di Jakarta mengatakan, berawal dari kegemarannya mengoleksi berbagai
art toys, sejak tahun 2008 dirinya mencoba untuk mendesain sendiri karakter
art toys. Mainannya berwarna warni dengan bentuk yang modern futuristik. Karya perdananya terpilih bersama 29
designer toys lainnya untuk berpartisipasi dalam
project toys Android yang diselenggarakan oleh perusahaan Dead Zebra Inc yang berkolaborasi dengan Google. Dalam proyek itu, Google mengirimkan 30 mainan polos yang didesain oleh para
designer toys. "Awalnya saya mengunduh karya saya di media sosial, lalu mereka melihat dan tertarik," ujar Kong Andri. Rata-rata
art toys buatan Kong Andri berukuran 3 inci hingga 8 inci. Harga jual dibanderol mulai dari US$ 110 sampai US$ 250 per unit. Omzet yang bisa diraup Kong Andri sebesar Rp 20 juta per bulan. Kebanyakan pelanggan setianya datang dari Amerika, Inggris, Prancis, dan Singapura. Karena berangkat dari hobi, dia tidak menargetkan kuantitas produk yang harus dia buat saban bulan. Dia pun tidak menerima pesanan karena semua hasil karyanya dibuat atas kemauan dan kreativitasnya sendiri. Bahan baku
art toys buatannya berasal dari
vinyl. Karena di dalam negeri bahan tersebut tidak tersedia, Kong Andri harus mengimpor dari China atau Jepang. Alternatif lain dia menggunakan bahan baku resin, logam atau kayu. Promo di pameran Bowo Baghaskara, desainer
art toys lainnya mengaku ide membuat
art toys berasal dari kehidupan sehari-hari serta hasil riset di internet. Sifat
art toys yang dibuat dalam jumlah terbatas dan pembuatannya menuntut kreatifitas menjadi hal yang menurutnya paling menarik. Bahan baku cetakan mainan yang dia gunakan biasanya dari karet silikon. Sebelumnya, langkah pembuatan
art toys adalah membuat detail sketsa di komputer. Setelah itu dia membuat master atau bentuk kasar
art toys dari tanah liat. Untuk penggandaannya, dia membutuhkan cetakan yang karet silikon tersebut. Setelah itu, resin cair dituangkan di cetakan. Proses pengerjaan
mastering bisa memakan waktu satu bulan. Kemudian proses penggandaan hingga selesai butuh satu bulan lagi. Dalam waktu dua bulan dia beserta tim produksi hanya mampu menghasilkan 20
art toys. Mainan buatan Bowo dibandrol dengan harga Rp 90.000 hingga Rp 7,5 juta dengan ukuran beragam mulai dari 2 cm-18 cm. Rata-rata dalam sebulan ia bisa meraup omzet US$ 1.500 hingga US$ 2.000. Bowo menambahkan, pemasaran Art Toys miliknya dilakukan melalui
media social, website, dan aktif mengikuti pameran. Sementara, Bowo banyak menjual art toys ke Jakarta, Singapore, US, Australia, Thailand, Hongkong dan beberapa kota seperti Batam atau Yogyakarta. "Rata-rata pembeli adalah kolektor mainan," ujar Bowo. Sementara Fadlin Nur Ikhwan pemilik Alympu Art Work yang akrab disapa Alin, membuat
art toys dengan sebutan
line up super 6. Artinya mainan dibuat dengan skala 1:6 dari ukuran karakter aslinya. Aliran
art toys Alin adalah karakter-karakter dengan tampilan tokoh seram. Oleh sebab itu dia menamakan produknya Zombie Spot. Dalam membuat
art toys dia menggunakan berbagai macam bahannya seperti kayu, cat akrilik, plastik lembaran, kulit sintetik, dan juga kain. Biasannya waktu pengerjaan bisa menghabiskan waktu tiga minggu hingga satu bulan. Rata-rata satu bulan dia hanya membuat tiga unit
art toys. Hingga saat ini, Alin sudah menghasilkan 20 hingga 30 desain mainan
limited edition. Alin pun hanya menjual karyanya pada berbagai pameran dan juga media sosial seperti Instagram
@Alympu. Harga jual tiap mainan dibanderol mulai dari Rp 1,5 juta hingga Rp 3 juta per unit. Dalam sebulan Art Toysnnya bisa terjual tiga mainan dengan omzet sekitar Rp 10 juta per bulan. Menurut Alin, penggemar
art toys hanya orang-orang tertentu yang suka mengkoleksi mainan. Kebetulan, mereka rata-rata berasal dan kalangan menengah atas. BOX Apresiasi di Dalam Negeri Masih Rendah Sarat akan kreativitas dan nilai seni yang tinggi membuat harga jual
art toys tidak murah. Sehingga, pangsa pasar di dalam negeri masih belum besar untuk produk ini. Kong Andri, salah satu pembuat
art toys dari Jakarta mengatakan, pemahaman masyarakat terhadap
art toys di dalam negeri masih minim. Ada filosofi yang berbeda antara mainan biasa dan
art toys. Mainan adalah sesuatu yang dibeli untuk dimainkan sedangkan
art toys dibeli untuk dipajang. "Cara untuk menikmati
art toys adalah dengan melihatnya, karena ini bukan sekadar mainan. Ini adalah seni," tegas Kong Andri. Selain itu,
art toys bersifat eksklusif. Inilah yang membuat harga jual lebih mahal dari mainan biasa.
Itu sebabnya apresiasi terhadap karya
art toys di dalam negeri masih minim ketimbang di luar negeri. Menurutnya, banyak orang yang mengeluhkan harga
art toys yang mahal. "Yang saya jual itu seninya, dan tidak diproduksi massal dan pengerjaannya penuh detail," ujarnya. Fadlin Nur Ikhwan, pemilik Alympu Art Work yang akrab disebut Alin pun mengaku apresiasi masyarakat Indonesia terhadap industri
art toys masih rendah. Sementara di luar negeri
art toys sudah dianggap sebagai bagian dari seni dan kultur urban. Inti dari
art toys adalah tentang konsep dan proses kreatifnya, hanya saja media atau output-nya yang berbentuk mainan. Ini yang menurut Alin membuat masyarakat Indonesia belum bisa mengapresiasi keberadaan seni yang ada dalam
art toys. Agar industri
art toys makin berkembang, Bowo Baghaskara,
desainer art toys lain ingin menggandeng beberapa anak band untuk menjadikan
art toys sebagai animasi video klip musiknya. "Atau semoga bisa bekerjasama dengan Mira Lesmana untuk produk
art toys dijadikan
merchandise filmnya," tutur Bowo. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News