KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Indonesia baru memanfaatkan 2,78 gigawatt (GW) dari potensi panas bumi nasional yang mencapai sekitar 24 GW. Artinya, sekitar 88% potensi energi panas bumi yang tersebar di 368 lokasi belum dimanfaatkan, membuka peluang besar bagi pengembangan energi baru terbarukan (EBT). Berdasarkan paparan Badan Geologi Kementerian ESDM pada Agustus 2026, potensi panas bumi Indonesia mencapai 24 GW. Sementara itu, data Direktorat Jenderal EBTKE mencatat kapasitas pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) terpasang baru 2.776 megawatt (MW).
Baca Juga: Kinerja PGEO dan BREN Solid di Semester I, Prospek Emiten Panas Bumi Kian Menyala Direktur Jenderal EBTKE Kementerian ESDM Eniya Listiani Dewi mengatakan, panas bumi memiliki keunggulan karena mampu memasok listrik selama 24 jam. Selain untuk pembangkit, panas bumi juga dapat dimanfaatkan langsung oleh masyarakat untuk mengeringkan hasil pertanian, seperti kopi, teh, dan padi. “Tidak ada yang bisa compete atau setara dengan diesel, hanya panas bumi satu-satunya EBT yang bisa menyalurkan listrik 24 jam,” ujar Eniya dalam Sosialisasi Pengembangan dan Penawaran Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) Gunung Endut di Lebak, Banten seperit ditulis KONTAN sebelumnya. Pakar Ekonomi Energi Universitas Gadjah Mada (UGM) Fahmy Radi menilai, besarnya potensi yang belum tergarap menjadi peluang untuk memperkuat ketahanan energi. Namun, pengembangannya membutuhkan kepastian keekonomian proyek, dukungan infrastruktur, dan insentif fiskal agar lebih menarik bagi investor.
Baca Juga: Ini Strategi PGEO Manfaatkan Panas Bumi untuk Dorong Industri Data Center Peluang pengembangan tersebut tercermin dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN 2025–2034. Dari target tambahan kapasitas pembangkit 69,5 GW, sebanyak 42,6 GW ditargetkan berasal dari EBT, termasuk tambahan kapasitas panas bumi sebesar 5,2 GW. Salah satu pemain utama di sektor ini adalah PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO), yang mengelola 15 wilayah kerja panas bumi dengan kapasitas terpasang 1.932 MW. Kapasitas tersebut terdiri dari 727 MW yang dioperasikan sendiri dan 1.205 MW melalui skema Kontrak Operasi Bersama. PGEO menargetkan kapasitas yang dioperasikan sendiri meningkat menjadi 1 GW pada 2028 dan 1,8 GW pada 2034.
Baca Juga: PLN Indonesia Power Siap Serap Listrik Dua Proyek Panas Bumi PGEO Kapasitas 45 MW Menurut Fahmy, pemerintah perlu menetapkan EBT sebagai prioritas sekaligus memperbaiki iklim investasi agar potensi panas bumi dapat dikembangkan secara optimal. “Pengembangan EBT merupakan satu keharusan yang harus segera dilakukan secara terus-menerus,” kata Fahmy. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News