KONTAN.CO.ID - LONDON. Pound sterling menguat pada perdagangan Kamis (22/10/2026), didukung oleh pergeseran arus investasi dari aset zona euro ke pasar Inggris. Kondisi ini membuat saham, obligasi, dan mata uang Inggris menunjukkan kinerja yang relatif lebih baik dibandingkan sejumlah pasar lain di kawasan Eropa. Penguatan pound juga ditopang oleh ekspektasi bahwa Bank of England (BoE) akan menaikkan suku bunga pada bulan depan. Prospek tersebut menguat setelah data inflasi Inggris yang dirilis pekan ini tercatat lebih tinggi dari perkiraan. Pound sterling naik 0,1% ke level US$ 1,34. Kinerja tersebut menjadikan pound sebagai salah satu mata uang dengan penguatan relatif baik, selain yen Jepang dan franc Swiss yang dikenal sebagai aset lindung nilai (safe haven).
Pelaku pasar memperkirakan BoE akan menaikkan suku bunga setidaknya tiga kali masing-masing sebesar 25 basis poin hingga April 2027. Kenaikan pertama telah diperhitungkan dalam ekspektasi pasar menjelang rapat kebijakan moneter pada 5 November 2026.
Baca Juga: Yunani Menyatakan Sedang Menerapkan Sanksi yang Berkaitan dengan Iran Sebagai perbandingan, pasar memperkirakan Bank Sentral Eropa (ECB) hanya akan menaikkan suku bunga sekitar dua kali dalam periode yang sama. Perbedaan prospek suku bunga tersebut memperlebar selisih imbal hasil antara Inggris dan zona euro, sehingga meningkatkan daya tarik pound dalam strategi perdagangan carry trade. Strategi carry trade merupakan transaksi yang dilakukan dengan meminjam mata uang dengan suku bunga rendah, seperti euro, untuk kemudian menjualnya dan mendanai investasi dalam mata uang dengan imbal hasil lebih tinggi, seperti pound sterling.
Aset Eropa Tertekan, Pound Relatif Diuntungkan
Di sisi lain, kekhawatiran investor terhadap tingginya harga minyak, besarnya biaya pembangunan infrastruktur kecerdasan buatan (AI), serta kemampuan pemerintah negara maju mengurangi beban utang yang besar telah menekan aset berisiko. Tekanan tersebut terutama terlihat di Eropa. Imbal hasil obligasi pemerintah Prancis naik ke level tertinggi dalam 24 tahun, sementara saham-saham zona euro mengalami penurunan tajam. Imbal hasil obligasi pemerintah Inggris atau gilts relatif tidak berubah pada perdagangan Kamis. Kondisi ini berbeda dengan kenaikan tajam imbal hasil obligasi pemerintah Prancis, Italia, dan Belgia. Indeks saham FTSE 100 Inggris turun 0,6%. Meski demikian, penurunannya lebih terbatas dibandingkan indeks STOXX 600 yang melemah 1%. Dalam sebulan terakhir, pound menjadi mata uang utama dengan kinerja terbaik terhadap dolar Amerika Serikat (AS), dengan kenaikan 0,3%. Sebaliknya, euro menjadi mata uang dengan kinerja terburuk terhadap dolar AS, setelah melemah 2% dalam periode yang sama. Euro juga berada di jalur penurunan selama empat pekan berturut-turut terhadap pound sterling. Sepanjang pekan ini, euro telah melemah 0,5% terhadap pound, sehingga penurunannya sejak awal tahun mencapai 1,8%. Jika tren tersebut bertahan hingga akhir bulan, euro berpotensi mencatat penurunan bulanan terbesar terhadap pound sejak Mei 2023. Kala itu, euro melemah 2% terhadap mata uang Inggris tersebut.
Prospek Suku Bunga Menopang Pound Sterling
Ahli strategi ING, Chris Turner, menilai penguatan pound dan pelemahan euro sama-sama berperan dalam pergerakan pasangan mata uang euro terhadap pound.
Baca Juga: Perang Memanas! Rusia Gempur Kyiv, Ukraina Kirim 630 Drone ke Arah Moskow “Sepertinya ada penguatan pound sterling yang berdiri sendiri sekaligus pelemahan euro yang berdiri sendiri dalam pergerakan euro terhadap pound. Pada awal musim panas ini, kami menilai kenaikan pound tidak akan bertahan lama. Namun, meningkatnya kepercayaan pasar terhadap siklus pengetatan kebijakan Bank of England—kami memperkirakan kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada Februari dan November—membuat pound menjadi mata uang Eropa dengan imbal hasil carry yang tinggi,” kata Turner.
Pengetatan kebijakan moneter mengacu pada langkah bank sentral menaikkan suku bunga untuk mengendalikan inflasi. Kebijakan ini dapat meningkatkan daya tarik mata uang suatu negara apabila imbal hasil aset domestiknya menjadi lebih kompetitif dibandingkan negara lain. Selain perbedaan prospek suku bunga, kekhawatiran terhadap kemampuan pemerintah Prancis mengatasi persoalan keuangan negara turut membebani euro. Kondisi tersebut mendorong pelaku pasar memperkirakan euro masih berpotensi melemah terhadap pound. Data LSEG menunjukkan pasar opsi mencatat sentimen paling negatif terhadap prospek euro dibandingkan pound sejak pertengahan 2024. Sementara itu, Menteri Keuangan Inggris John Healey dijadwalkan menyampaikan anggaran pertamanya pada 28 Oktober 2026. Investor besar memperkirakan pengumuman anggaran tersebut tidak akan memicu gejolak pasar yang berarti.