Pound Sterling Melemah Tiga Hari Beruntun di Tengah Ketegangan Timur Tengah



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Mata uang pound sterling kembali melemah terhadap euro dan dolar Amerika Serikat (AS) untuk hari ketiga berturut-turut. Pelemahan ini dipicu meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah serta kekhawatiran investor terhadap situasi politik domestik Inggris.

Pasar global tengah mencermati eskalasi konflik antara Iran dan AS setelah Garda Revolusi Iran melancarkan serangan ke pangkalan militer AS pada Kamis (26/6). Serangan tersebut terjadi beberapa jam setelah Presiden AS Donald Trump membantah laporan yang menyebut Washington hampir mencapai kesepakatan dengan Teheran.

Di sisi lain, dolar AS menguat didukung permintaan aset safe haven di tengah ketidakpastian mengenai pembukaan kembali Selat Hormuz. Investor juga mulai mengalihkan perhatian pada potensi kenaikan suku bunga AS.


Pound sterling tercatat turun 0,20% ke level US$ 1,34 setelah sempat menyentuh US$ 1,3368, yang merupakan level terendah sejak 18 Mei.

“Secara keseluruhan, risiko kenaikan euro terhadap sterling masih terbuka karena sebagian risiko politik berpotensi kembali diperhitungkan oleh pasar,” ujar Francesco Pesole, analis strategi valuta asing di ING.

Baca Juga: Investasi Gas Global Melonjak ke Level Tertinggi 10 Tahun di Tengah Krisis Timteng

Menurut Pesole, pasar sebelumnya cenderung mengabaikan risiko politik tersebut, namun kini mulai kembali mencermatinya.

Spekulasi mengenai potensi pergantian kepemimpinan di Partai Buruh Inggris juga turut membebani sterling. Sejumlah tokoh yang berpotensi menjadi rival Perdana Menteri Inggris Keir Starmer, seperti Wali Kota Greater Manchester Andy Burnham, mulai mengambil posisi menjelang kemungkinan tantangan kepemimpinan internal.

Namun demikian, Pesole menilai penguatan euro terhadap sterling kemungkinan masih terbatas dalam jangka pendek.

“Namun, tanpa sikap European Central Bank (ECB) yang sangat hawkish atau Bank of England yang dovish, pasangan euro/sterling kemungkinan akan kesulitan bertahan di atas level 0,87 dalam waktu dekat,” tambahnya.

Pelaku pasar kini memperkirakan dua kali kenaikan suku bunga oleh European Central Bank hingga akhir tahun setelah sejumlah pejabat ECB menyampaikan pernyataan bernada hawkish.

Kepala ekonom ECB, Philip Lane, pada Kamis mengatakan bahwa guncangan energi akibat perang antara AS dan Israel melawan Iran kemungkinan akan memberikan dampak berkepanjangan terhadap inflasi.

Baca Juga: Harga Minyak Melonjak Lebih dari 2% Usai Iran Serang Pangkalan AS

Sementara itu, pembuat kebijakan Bank of England Alan Taylor pekan lalu menyebut risiko inflasi putaran kedua akibat perang Iran lebih kecil dibanding dampak invasi Rusia ke Ukraina pada 2022.

Gubernur Bank of England Andrew Bailey juga mengatakan bank sentral masih memiliki waktu untuk mengevaluasi dampak perang Iran terhadap perekonomian Inggris.

Di pasar valuta asing, euro naik 0,10% menjadi 86,69 pence, level tertinggi sejak 19 Mei.

“Meski demikian, dengan Inggris masih berada dalam bayang-bayang ketidakpastian akibat prospek pemilihan kepemimpinan di Partai Buruh, kami memperkirakan euro/sterling akan terus menguat jika muncul kabar positif dari kawasan Teluk Persia,” ujar Thierry Wizman, analis strategi global valuta asing dan suku bunga di Macquarie Group.