Poundsterling masih terus merunduk di hadapan yen



JAKARTA. Poundsterling masih terus melemah di hadapan mayoritas mata uang dunia lainnya termasuk yen. Penantian pasar terhadap pidato Gubernur Bank of England pun menambah tinggi beban pergerakan GBP.

Mengutip Bloomberg, Selasa (11/10) pukul 17.05 WIB pairing GBP/JPY yang terpuruk 0,40% ke level 127,56 dibanding hari sebelumnya.

Anthonius Edyson, Research and Analyst PT Astronacci International Futures mengungkapkan beban pelemahan masih terus membayangi poundsterling sejak akhir pekan lalu menembus level terendahnya sejak 31 tahun lalu akibat kekhawatiran Brexit.


Ditambah lagi data produksi industri yang negatif dan defisit neraca perdagangan yang membengkak jadi tambahan katalis negatif bagi poundsterling.

Walau data pengawasan penjualan ritel Inggris Oktober 2016 menunjukkan kenaikan dari minus 0,9% menjadi 0,4%, tapi GBP/JPY gagal membalikkan arah pergerakan. “Jejeran faktor negatif sulit membuat poundsterling punya kekuatan untuk unggul,” ujar Anthonius.

Sementara yen sendiri terhitung stabil karena data ekonomi yang masih memuaskan pasar. Terbaru neraca berjalan Jepang Agustus 2016 surplusnya membengkak dari 1,45 triliun yen menjadi 1,98 triliun yen.

Ditambah lagi belum adanya langkah dari Haruhiko Kuroda, Gubernur BOJ untuk melonggarkan kebijakan moneternya dalam waktu dekat memberikan pandangan bahwa ekonomi Jepang sudah lebih solid.

Anthonius memperkirakan pelemahan GBP/JPY masih bisa berlanjut pada Rabu (12/10). Yang nantinya menjadi perhatian utama pelaku pasar adalah pidato dari wakil gubernur Bank of England, Jon Cunliffe. Pasar tentu akan menanti arah prospek ekonomi Inggris ke depannya dalam pidato tersebut.

Sebelum pada Kamis (13/10), Mark Carney, Gubernur BOE dijadwalkan beri testimoni. “Fokus pasar pada arah ekonomi Inggris pasca Brexit akan terus menggerus poundsterling selama diindikasikan terjadi gejolak ekonomi,” kata Anthonius.

Hanya saja kans untuk bergerak konsolidasi tetap terbuka mengingat pelemahan pasangan ini sudah terlampau dalam. Jadi rebound teknikal tetap mungkin terjadi sebagai upaya penyesuaian posisi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Yudho Winarto