KONTAN.CO.ID - Ketua Federal Reserve Jerome Powell menyatakan bank sentral Amerika Serikat (AS) masih memilih untuk menunggu dan melihat dampak perang Iran terhadap ekonomi dan inflasi sebelum mengambil langkah kebijakan lanjutan. Dalam paparannya di Harvard University Senin (30/3/2026), Powell menilai kebijakan moneter saat ini berada pada posisi yang tepat untuk bersikap hati-hati. “Kami merasa kebijakan kami berada di posisi yang baik untuk menunggu dan melihat bagaimana situasi ini berkembang,” ujarnya dilansir dari
Reuters.
Baca Juga: Ultimatum Baru Trump ke Iran: Selat Hormuz Harus Terbuka, Atau Hancur! Seiring perang Iran memasuki pekan kelima dan harga bensin di AS naik mendekati rata-rata US$4 per galon, The Fed menghadapi potensi dilema antara dua mandat utamanya, yakni menjaga lapangan kerja penuh dan stabilitas harga. Powell menegaskan bahwa ekspektasi inflasi jangka panjang masih relatif terkendali, meskipun tekanan jangka pendek mulai meningkat. “Ekspektasi inflasi tampaknya tetap terjaga dalam jangka panjang. Namun, kami tetap akan menghadapi pertanyaan kebijakan ke depan, meski saat ini kami belum mengetahui dampak ekonomi secara pasti,” jelasnya. Suku Bunga Ditahan, Risiko Masih Dipantau Sebelumnya, The Fed mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,50%–3,75% dalam pertemuan kebijakan terbaru bulan ini.
Baca Juga: Turki Sebut Pertahanan NATO Tembak Jatuh Rudal Balistik Iran yang Masuk Wilayahnya Powell juga menekankan bahwa bank sentral ingin melihat terlebih dahulu apakah inflasi barang yang dipicu oleh tarif mulai mereda, sebelum mempertimbangkan apakah kenaikan inflasi akibat perang perlu diabaikan atau justru direspons dengan pengetatan kebijakan moneter. Kekhawatiran Inflasi Meningkat
Sejak pernyataan tersebut, kekhawatiran inflasi di kalangan investor meningkat, yang tercermin dari kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS.
Baca Juga: Wall Street Bangkit Pasca Koreksi Tajam, Investor Pantau Ketegangan Timur Tengah Survei dari University of Michigan juga menunjukkan lonjakan ekspektasi harga rumah tangga untuk tahun mendatang, meskipun indikator berbasis pasar lainnya masih menunjukkan kondisi yang lebih stabil. Dengan ketidakpastian yang masih tinggi akibat konflik geopolitik dan lonjakan harga energi, The Fed kini berada dalam posisi untuk menimbang risiko inflasi tanpa menghambat pertumbuhan ekonomi terlalu dalam.