PPATK Perkirakan Perputaran Uang di Tambang Emas Ilegal Mencapai Rp 992 Triliun



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) menduga, perputaran uang yang di jaringan penambangan emas tanpa izin (PETI) mencapai Rp 992 triliun. 

“Nilai total perputaran dana yang diduga berkaitan dengan PETI pada periode 2023-2025 sebesar lebih dari Rp 992 triliun,” kata Kepala PPATK Ivan Yustiavandana, saat dihubungi Kompas.com, Sabtu (31/1/2026). 

Ivan mengatakan, jaringan tambang emas ilegal ini tersebar ke beberapa wilayah, yaitu Papua, Kalimantan Barat, Sulawesi, Sumatera Utara dan Pulau Jawa. 


Berdasarkan temuan sementara, total nominal transaksi dalam jaringan ini mencapai Rp 185 triliun untuk periode 2023-2025. 

Baca Juga: Purbaya Yakin Investor Asing Kembali Masuk di Pasar Saham Usai Penanganan Pemerintah

“Dari hasil analisis transaksi keuangan para pihak yang diduga berkaitan dengan penambangan dan distribusi hasil tambang/hasil olahan emas PETI di seluruh wilayah cluster meliputi Pulau Jawa, Kalimantan, Sulawesi dan Medan & sekitarnya, total nilai nominal transaksi yang diduga berkaitan dengan PETI pada periode 2023-2025 sebesar lebih dari Rp 185 triliun,” ujar dia.

Dari aliran ini, terdeteksi sebagian mengalir ke luar negeri melalui ekspor emas ke beberapa negara. Misalnya, Singapura, Thailand, dan Amerika Serikat.

“Transaksi tersebut diketahui dari adanya dana masuk ke rekening perusahaan milik pemain besar dimaksud pada periode 2023-2025 total sebesar lebih dari Rp 155 triliun,” imbuh Ivan. 

Hasil analisis ini sudah diserahkan PPATK kepada aparat penegak hukum, dalam hal ini Satgas Penertiban Kawasan Hutan (PKH).

Baca Juga: Pemerintah Naikkan Batas Investasi Dana Pensiun & Asuransi di Pasar Modal Jadi 20%

Sumber: https://nasional.kompas.com/read/2026/01/31/14364101/ppatk-endus-perputaran-uang-di-tambang-emas-ilegal-capai-rp-992-t.

Selanjutnya: Unit Bisnis Layanan Teknologi Bakal Jadi Motor Penggerak Astra Graphia (ASGR)

Menarik Dibaca: Harga Bitcoin Bergerak Liar, Investor Disarankan Berhati-hati

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News