PPATK Sebut Perputaran Uang Kejahatan Lingkungan Tembus Rp 1.700 Triliun Sejak 2020



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) melaporkan hasil riset perputaran uang hasil kejahatan yang berkaitan dengan eksploitasi sumber daya alam atau Green Financial Crime (GFC). 

Lembaga intelijen keuangan ini mencatat, akumulasi perputaran dana terkait GFC sejak tahun 2020 hingga 2025 telah menembus angka Rp 1.700 triliun.

Kepala PPATK, Ivan Yustiavandana meluruskan informasi yang beredar sebelumnya yang menyebut angka Rp 992 triliun.


Menurutnya, angka tersebut hanyalah laporan pada periode tahun 2025 saja, sedangkan total akumulasi dalam lima tahun terakhir jauh lebih besar.

Baca Juga: PPATK Klaim Transaksi Judi Online Anjlok Jadi Rp 286 T, Efek Sinergi Antarlembaga

"Terkait dengan GFC kami sudah melakukan riset mengenai Green Financial Crime itu sejak tahun 2020. Data kami perputaran GFC sejak tahun 2020 bukan Rp 992 triliun tapi Rp 1.700 triliun. Rp 992 triliun itu hanyalah yang kita laporkan di 2025 yang lalu," ujarnya dalam rapat kerja bersama Komisi III DPR, Jakarta, Selasa (3/2/2026).

Ivan menjelaskan, PPATK telah memetakan aliran dana ini ke berbagai wilayah, termasuk Sumatra yang belakangan kerap dilanda bencana. Data riset yang dimiliki PPATK diklaim sangat komprehensif hingga bisa memetakan wilayah-wilayah rawan eksploitasi.

"Kita sudah punya hasil risetnya bahkan kita sudah punya GFC-nya mana termasuk wilayah Sumatra kita sudah punya," jelasnya.

Lebih lanjut, Ivan menegaskan, data transaksi keuangan ini sejatinya dapat digunakan sebagai alat deteksi dini (early warning system). Pola transaksi yang mencurigakan di sektor sumber daya alam seringkali berkorelasi lurus dengan potensi kerusakan lingkungan dan bencana di suatu wilayah.

Baca Juga: PPATK Melaporkan Perputaran Dana Judol Capai Rp 286,84 Triliun pada 2025

"Artinya hasil riset ini bisa memprediksi apa yang akan terjadi khususnya bencana alam dan segala macam, rekomendasi banyak di dalam situ," pungkasnya.

Selanjutnya: Trump Naikkan Tekanan ke Harvard, Tuntut Ganti Rugi US$1 Miliar

Menarik Dibaca: Bunga Kompetitif, ORI029 Alternatif Diversifikasi di tengah Volatilitas Pasar

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News