Prabowo Klaim Laba Bersih SMGR Melesat 400% pada Semester I-2026, Cek Rekomendasinya



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Emiten pelat merah, PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) atau yang dikenal dengan nama SIG mendapat sorotan dari Presiden Prabowo Subianto karena berhasil mencetak pertumbuhan laba bersih yang fantastis di paruh pertama 2026. 

Sebenarnya, SMGR belum merilis kinerja keuangan per Juni 2026. Namun berdasarkan materi yang disampaikan Prabowo, untung bersih SMGR berhasil tumbuh 408,9% secara tahunan atau Year on Year (YoY) di semester I-2026.

Kalau melihat kinerja di semester I-2025, laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk SMGR menyentuh Rp 39,97 miliar. Artinya, laba bersih SMGR diperkirakan mencapai Rp 203,41 miliar di semester I-2026 


Baca Juga: Pefindo Tetapkan Rating Damri di Level idA+ dengan Outlook Stabil

Secara operasional, SMGR mencatatkan volume penjualan sebanyak 18,27 juta ton selama periode Januari–Juni 2026. Angka tersebut meningkat 5,6% YoY dari 17,3 juta ton di periode yang sama pada 2025.  

Dalam keterangan resminya, penjualan retail berkontribusi sebesar 70% dari total pendapatan SMGR. Ke depan, manajemen SMGR akan menyasar pasar potensial di Jawa Barat, seiring dengan meningkatnya permintaan di Tanah Pasundan itu. 

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta mencermati pertumbuhan tersebut didorong oleh peningkatan aktivitas konstruksi properti maupun infrastruktur, termasuk proyek hilirisasi dan pembangunan prioritas pemerintah.  

“Pertumbuhan volume SMGR masih berpeluang berlanjut di paruh kedua tahun ini, meskipun kemungkinan pertumbuhannya tidak akan setinggi laju industri pada kuartal II secara keseluruhan,” katanya kepada Kontan, Rabu (19/8). 

Untuk lonjakan laba bersih 408,9% YoY yang disampaikan Presiden Prabowo, Nafan menyarankan investor untuk menyikapinya secara prudent sampai laporan keuangan semester I yang telah diaudit secara terbatas resmi diterbitkan. 

“Angka tersebut memang sangat positif, tetapi investor perlu melihat kualitas pertumbuhan laba, apakah berasal dari peningkatan margin operasional yang berkelanjutan, efisiensi biaya, penurunan beban keuangan, keuntungan non-operasional, atau kombinasi beberapa faktor,” jelasnya. 

Head of Research KISI Muhammad Wafi menyebut angka 408,9% dari presiden itu biasanya mengindikasikan efek basis rendah (low base effect) atau pos luar biasa (one-off item), bukan perubahan kinerja yang sangat drastis. 

“Sementara, angka pertumbuhan volume sebesar 5,6% YoY jauh lebih moderat dan lebih masuk akal sebagai perbaikan operasional, sejalan dengan pemulihan volume domestik dan penurunan harga gas,” tuturnya. 

Lebih lanjut, Wafi mencermati prospek sisa tahun bergantung keberlanjutan dua faktor utama. Yakni, apakah gas tetap rendah dan apakah base effect paruh kedua tahun ini tidak sepositif semester I-2026. 

“Tantangan masih seputar oversupply struktural, yakni utilisasi 50%–60% yang belum terselesaikan meski margin membaik, persaingan ketat dan keberlanjutan harga gas rendah sebab jika mengalami normalisasi  naik sebagian perbaikan margin bisa berbalik arah,” kata Wafi. 

Secara nasional, MNC Sekuritas mencatat Volume penjualan semen nasional mencapai 29,93 juta ton pada semester I-2026 atau tumbuh 10,2% YoY. Ini mencerminkan berlanjutnya perbaikan permintaan baik dari segmen ritel maupun proyek. 

Segmen semen kantong tetap menjadi kontributor terbesar dengan volume 21,52 juta ton atau naik 10,0 YoY. Sementara semen curah tumbuh sedikit lebih cepat menjadi 8,41 juta ton, yang melonjak 10,6% YoY.

Research Analyst MNC Sekuritas Rudy Setiawan menjelaskan secara historis, kuartal III  menandai dimulainya periode musiman yang lebih kuat. Dalam tiga tahun terakhir, volume penjualan semen nasional rata-rata tumbuh 30,6% secara kuartalan dan naik 1% YoY. 

Meskipun permintaan terus membaik, kata Rudy, profitabilitas tetap menjadi fokus utama produsen semen domestik, di tengah tingginya harga energi, volatilitas rupiah, dan kenaikan biaya logistik.

SMGR memperkirakan kenaikan biaya energi dapat meningkatkan COGS per ton sekitar 5%. SMGR juga mengindikasikan bahwa langkah kenaikan harga lebih lanjut mungkin diperlukan apabila biaya input tetap tinggi.

“Secara keseluruhan, kinerja laba semester II-2026 akan lebih bergantung pada kemampuan produsen mempertahankan margin melalui disiplin harga dibandingkan pertumbuhan volume semata,” tulisnya dalam riset yang dirilis pada 22 Juli 2026.

Rudy menjelaskan berdasarkan panduan SMGR, kemampuan meneruskan kenaikan biaya kepada konsumen yang tidak memadai dapat menyebabkan kontraksi margin EBITDA  hingga 1,9 percentage point (ppt). 

MNC Sekuritas memperkirakan laba SMGR tumbuh 53,4% YoY di sepanjang 2026. Menurutnya, ini didorong oleh efek basis rendah setelah laba turun masing-masing 66,8% YoY di 2024 dan 73,5% YoY di 2025 dengan dukungan dari pemulihan margin secara bertahap.

Lebih lanjut, MNC Sekuritas merekomendasikan hold SMGR dengan target harga di Rp 1.785 per saham. Sementara itu, Nafan masih menyarankan investor untuk wait and see atas saham SMGR.

Di sisi lain, Wafi belum bisa memberikan rekomendasi atas saham SMGR karena harus menunggu laporan resmi dan hasil audit sebelum dengan yakin menyebutnya sebagai pembalikan kinerja yang sepenuhnya berkelanjutan, mengingat angkanya masih bersifat awal dan skalanya sangat ekstrem. “Pertumbuhan volume sebesar 5,6% menjadi basis yang lebih solid untuk optimisme jangka pendek. Saham ini masih masuk kategori value trap yang berpotensi mulai membaik, bukan kandidat re-rating yang sudah terkonfirmasi,” ucapnya. 

Baca Juga: Ancaman Sanksi Iran Tekan Pasokan Fisik, Harga Minyak Dibayangi Volatilitas

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News