Prabowo Perintahkan Bahlil Kembangkan E50



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemerintah mulai menyiapkan arah baru pengembangan bahan bakar nabati untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap energi fosil impor. Setelah penerapan mandatori biodiesel B50 dinilai mampu menekan kebutuhan impor solar, pemerintah kini mengkaji pengembangan bioetanol melalui program E50.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan, Presiden Prabowo Subianto telah memberikan instruksi kepada Kementerian ESDM untuk mulai menyusun strategi penerapan E50 di dalam negeri.

Menurut Bahlil, pemerintah akan mengambil pelajaran dari implementasi B50 yang menggunakan produk turunan kelapa sawit sebagai bahan baku biodiesel. Keberhasilan program tersebut menjadi salah satu dasar pemerintah untuk mengembangkan skema serupa pada bahan bakar berbasis bioetanol.


"Kami juga telah memutuskan bahwa untuk jangka panjang, kita mempelajari tentang kesuksesan daripada B50, di mana B50 ini adalah hasilnya dari CPO dicampur dengan metanol kemudian menjadi FAME, yang ini mengantarkan kita untuk tidak lagi melakukan impor solar untuk khusus CN 48" ujarnya di Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (17/9/2026).

Baca Juga: Restitusi Rp 800 Miliar Tertahan, Brantas Abipraya Waspadai Penyelesaian Proyek

Bahlil menyebut, capaian pengurangan impor solar melalui B50 menjadi pertimbangan bagi pemerintah untuk mempercepat penyusunan peta jalan E50. Presiden Prabowo, kata dia, meminta Kementerian ESDM segera merumuskan langkah-langkah yang diperlukan untuk menjalankan program tersebut.

"Nah, belajar berangkat dari ini, Bapak Presiden tadi memerintahkan untuk segera menyusun langkah-langkah yang sama untuk kita membangun E50," jelas Bahlil.

Rencana pengembangan E50 tersebut tidak terlepas dari besarnya kebutuhan bahan bakar minyak (BBM) nasional. Pemerintah melihat konsumsi bensin dan solar Indonesia berada pada level yang relatif berimbang sehingga pengembangan bahan bakar nabati diarahkan untuk menjangkau kebutuhan energi yang lebih luas.

Bahlil mengungkapkan, konsumsi solar nasional mencapai sekitar 39 juta kiloliter (KL) per tahun. Sementara itu, kebutuhan bensin juga berada pada kisaran 39 juta KL hingga 40 juta KL per tahun.

"Kita tahu bahwa konsumsi BBM kita untuk solar per tahun kurang lebih sekitar 39 juta kiloliter dan untuk bensin sama, hampir kurang lebih sekitar 39 sampai 40 juta," pungkasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

TAG: