KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Presiden Prabowo Subianto menyebut kondisi Indonesia relatif baik meski dunia tengah menghadapi berbagai tantangan, mulai dari konflik geopolitik hingga perang dagang. Hal tersebut disampaikan Prabowo saat membuka Sidang Kabinet Paripurna di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (21/10/2026). Prabowo mengatakan, ketidakpastian global membuat setiap negara perlu memperkuat kemampuan untuk memenuhi kebutuhan dalam negerinya. Menurut dia, Indonesia harus memastikan ketersediaan pangan dan energi agar tidak terlalu bergantung pada negara lain ketika terjadi krisis.
Baca Juga: UMP 2027, ASPEK Tolak Kenaikan 6%-9% Tanpa Pertimbangan KHL "Di tengah kita lihat dunia penuh tantangan, kita masih bersyukur, masih bersyukur bahwa kita relatif dalam keadaan baik. Pangan kita terkendali," ujar Prabowo dalam pidatonya. Ia menyebut keberhasilan mencapai swasembada pangan dalam waktu relatif cepat sebagai salah satu capaian utama pemerintahannya. Prabowo menilai, ketahanan pangan menjadi semakin penting karena pasokan pangan dapat menjadi instrumen strategis di tengah persaingan antarnegara. "Pangan itu menentukan karena sekarang pangan bisa menjadi senjata, dalam keadaan krisis kita punya uang pun mungkin kita tidak bisa beli beras dari negara lain," katanya. Prabowo menambahkan, Indonesia mampu menjaga ketahanan pangan di tengah tantangan cuaca, termasuk kekeringan yang berlangsung cukup panjang pada periode 2025–2026. Ia juga menyebut pemerintah telah menyiapkan langkah antisipasi untuk menghadapi fenomena cuaca seperti El Nino dan La Nina. "Saudara-saudara, kita bersyukur kita sudah swasembada pangan di musim yang sangat sulit. 25, 26 kekeringan cukup panjang, kita bisa swasembada. El Nino kita hadapi, nanti ada La Nina kita hadapi, kita sudah punya kontingensi-kontingensi," ujar Prabowo. Selain pangan, Prabowo menyoroti potensi energi nasional yang dinilai dapat membantu Indonesia menghadapi ketidakpastian pasokan dan kenaikan harga minyak dunia. Ia menyebut Indonesia masih memiliki sumber energi alternatif, mulai dari batubara hingga panas bumi atau geotermal. "Harga minyak dunia naik dan akan naik, kita bersyukur kita punya sumber-sumber energi lain yang cukup banyak," katanya. Prabowo juga menekankan pengembangan biodiesel berbasis tanaman sebagai salah satu upaya mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan bakar minyak (BBM). Menurut dia, pemanfaatan sumber energi domestik menjadi penting untuk memperkuat ketahanan energi nasional di tengah dinamika geopolitik. Pemerintah, lanjut Prabowo, telah mencapai implementasi biodiesel (B50) dan akan mendorong peningkatan penggunaan etanol sebagai campuran bahan bakar. Ia menyebut pemerintah menargetkan penggunaan etanol (E10) pada tahap awal, kemudian meningkat menjadi E20 dan E50 secara bertahap. "Kita sudah mencapai B50 dan kita sekarang akan berjuang untuk etanol menjadi etanol E50," ujar Prabowo.
Ia berharap pengembangan biodiesel dan etanol dapat memperkuat kemandirian energi Indonesia dalam beberapa tahun mendatang. Prabowo menyebut, apabila target penggunaan biodiesel B50 dan etanol E50 tercapai, Indonesia berpeluang mengurangi kebutuhan impor BBM dari luar negeri. "Pada saat kita E50 dan B50, kita insyaallah tidak perlu impor BBM lagi dari luar," kata Prabowo.
Baca Juga: Menuju Akhir Tahun 2026, Sejumlah Ekonom Proyeksikan Inflasi Bisa Tembus di Atas 3,5% Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News