KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Asosiasi Produsen Listrik Swasta Indonesia (APLSI) menyambut positif langkah pemerintah yang mulai menggenjot produksi listrik nasional berbasis energi terbarukan. Presiden Prabowo Subianto telah memulai pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) 100 Gigawatt (GW) dengan target awal mencapai 30 GW pada tahun 2026. Ketua Umum APLSI, Eka Satria menyatakan, industri menyambut baik target ambisius tersebut. Menurutnya, Indonesia memang membutuhkan pasokan listrik dalam jumlah besar untuk menopang pertumbuhan ekonomi, di mana teknologi PLTS memiliki keunggulan karena relatif lebih cepat dibangun dibandingkan jenis pembangkit lainnya.
"Pengurangan Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) juga tepat karena dapat menekan penggunaan BBM dan biaya pembangkitan. Namun PLTS perlu dibangun sebagai satu ekosistem bersama BESS/storage, jaringan dan pembangkit fleksibel agar sistem tetap andal dan yang lebih penting kesediaan tanah, atap-atap maupun waduk untuk tempat PLTS-nya," ujar kepada Kontan.co.id, Senin (17/8/2026).
Baca Juga: Pemerintah Obral Berbagai Kemudahan Regulasi Demi Pacu Investasi PLTS Swasta Eka tidak memungkiri, pemenuhan target pembangunan PLTS sebesar 30 GW pada tahun 2026 sangat ambisius bagi industri. Meski dari sisi ketersediaan teknologi sudah sangat siap, keberhasilan pencapaian target tersebut sangat bergantung pada kesiapan eksekusi di lapangan serta kepastian skema bisnis bagi para pengembang. "Target 30 GW sangat ambisius. Teknologinya tersedia dan PLTS bisa dibangun cepat, tetapi tantangannya ada pada eksekusi, kesiapan lahan, jaringan, perizinan, procurement, dan keekonomian proyek. Untuk mengejarnya, pemerintah perlu membuka ruang sebesar-besarnya bagi investasi swasta dengan pipeline proyek yang jelas dan PPA (Power Purchase Agreement) yang bankable," tegasnya. Lebih lanjut, Eka menekankan, kunci utama keberhasilan program ini terletak pada keselarasan antara pembangunan PLTS dengan kebutuhan sistem ketenagalistrikan nasional. Ia pun meminta, Pemerintah dan pemangku kepentingan untuk mengakselerasi pembangunan jaringan transmisi serta infrastruktur Battery Energy Storage System (BESS) agar pasokan listrik yang dihasilkan dapat tersalurkan secara optimal dan stabil. "Kuncinya adalah memastikan proyek PLTS sesuai kebutuhan sistem, sekaligus mempercepat pembangunan BESS dan transmisi. Tarif juga harus memberikan reasonable return agar investasi dapat masuk dalam skala besar. Jadi kami melihat 100 GW sebagai peluang besar untuk ketahanan energi, penghematan BBM, investasi dan penciptaan lapangan kerja," pungkasnya.
Baca Juga: Kejar Proyek PLTS 100 GW, Pemerintah Siapkan 24.000 Hektare Lahan di Jawa Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto menegaskan pemerintah bakal mengejar target pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) sebesar 30 gigawatt (GW) pada tahun ini. Dia bilang, penambahan kapasitas PLTS tersebut dilakukan beriringan dengan rencana penghentian pengoperasian Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD). "Kita telah mulai dan akan membangun 100.000 megawatt atau 100 gigawatt energi dari matahari, energi surya," ujarnya dalam Rapat Paripurna DPR RI Ke-1 Tahun Sidang 2026–2027 dan Penyampaian RUU APBN 2027, Jakarta, Jumat (14/8/2026).
Selain itu, program pendorong energi surya ini juga disiapkan hingga tingkat perdesaan guna menjamin pemerataan listrik di seluruh wilayah. Prabowo pun membidik setiap dasa setidaknya bisa merasakan aliran listrik tenaga surya itu. "Idealnya setiap desa bisa memiliki PLTS 1 megawatt. Ini ideal. Kalau desa itu mau siapkan lahan, kita bisa yakinkan bahwa mereka bisa dapat PLTS 1 megawatt 1 desa," imbuhnya.
Baca Juga: Danantara Kantongi Investasi Pabrik PLTS US$ 1,4 M, Pembangunan Rampung Akhir Tahun Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News