Prabowo Ungkap Alasan Baru Datang ke NTT: Tak Mau Ganggu Penanganan Gempa



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Presiden Prabowo Subianto mengungkap alasan dirinya baru mengunjungi Nusa Tenggara Timur (NTT) setelah hampir dua pekan gempa mengguncang wilayah Flores. Prabowo mengatakan, dirinya sengaja tidak datang pada awal bencana agar penanganan di lapangan tidak terganggu.

Mengutip dari Youtube Sekretariat Presiden pada Rabu (26/8/2028) Prabowo menilai kedatangan terlalu banyak pejabat pusat ke lokasi bencana pada tahap awal justru berpotensi memecah konsentrasi pemerintah daerah dan instansi terkait dalam melayani masyarakat terdampak.

“Memang sengaja saya di awal-awal saya tidak mau datang karena saya mau beri kesempatan semua instansi untuk melayani rakyat langsung,” ujar Prabowo seusai menerima laporan penanganan gempa di Nagekeo, NTT. 


Baca Juga: BMKG: 2.000 Sensor Kegempaan Perkuat Mitigasi Gempa dan Tsunami di Indonesia

Menurut Prabowo, kehadiran pejabat pusat di lokasi bencana dapat membuat pejabat daerah harus melakukan berbagai persiapan dan penjemputan. Kondisi tersebut dikhawatirkan mengalihkan fokus pemerintah dari penanganan masyarakat yang menjadi prioritas utama.

“Kadang-kadang kalau terlalu banyak pejabat pusat datang, terpecah konsentrasi. Jadi pejabat daerah harus menjemput dan sebagainya, itu kadang-kadang ada kecenderungan akhirnya bisa menjadi mengalihkan fokus pertama,” katanya.

Prabowo mengatakan, pemerintah pusat tetap memantau perkembangan penanganan gempa meski dirinya belum datang langsung ke lokasi. Menurut dia, prioritas pemerintah pusat pada tahap awal adalah memastikan bantuan dan pelayanan dapat segera dikerahkan kepada masyarakat.

“Tapi kita terus memonitor dan kita yang paling penting dari pusat adalah mengerahkan pelayanan dan bantuan. Itu yang paling penting,” tegasnya.

Prabowo menilai kunjungan ke lokasi bencana tidak akan banyak memberikan manfaat apabila pemerintah tidak mampu memastikan bantuan dan penanganan berjalan dengan baik.

“Kalau kita datang habis itu hanya lihat bencana tapi tidak bisa mengatasi, tidak bisa kirim bantuan, ya itu akhirnya kurang efektif,” ujarnya.

Setelah memperoleh laporan dari jajaran pemerintah daerah dan instansi terkait, Prabowo mengatakan penanganan bencana di NTT telah dilakukan secara maksimal. Meski demikian, ia menegaskan pemerintah masih perlu melakukan berbagai langkah lanjutan untuk membantu masyarakat terdampak.

“Saya memantau, kita sudah berbuat maksimal. Tentunya kita ingin berbuat lebih,” kata Prabowo.

Dalam kesempatan tersebut, Prabowo juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh instansi yang terlibat dalam penanganan gempa Flores. Mulai dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), kementerian terkait, TNI, Polri, Basarnas, pemerintah provinsi hingga pemerintah kabupaten.

Ia secara khusus mengapresiasi kerja para kepala daerah yang dinilai menjadi pihak yang paling dekat dengan masyarakat terdampak bencana.

“Terima kasih tadi laporan dari Gubernur dan Bupati. Ini Bupati, pemimpin yang paling dekat sama rakyat,” ujar Prabowo.

Selain mengevaluasi penanganan gempa, Prabowo dalam kunjungan tersebut juga membahas sejumlah kebutuhan jangka menengah dan panjang NTT. Salah satunya rencana pemanfaatan lahan sekitar 8.000 hektare di Nagekeo untuk dikembangkan menjadi kawasan pertanian dan lumbung pangan.

Prabowo juga meminta pemerintah memperkuat penyediaan air bersih, termasuk melalui pengembangan teknologi desalinasi untuk wilayah yang kesulitan mendapatkan sumber air. Ia menilai persoalan air menjadi salah satu tantangan utama di NTT.

“Air sangat penting. Jadi selain jangka pendek kita harus berpikir melakukan upaya-upaya jangka menengah dan jangka panjang,” katanya.

Prabowo juga mendorong percepatan penghijauan kembali wilayah NTT untuk menjaga ketersediaan sumber air. Pemerintah pusat, pemerintah daerah, perguruan tinggi, serta BRIN akan dilibatkan dalam program tersebut.

“Kalau dilakukan dengan teliti dalam empat, lima, enam tahun itu bisa menampung dan menambah air di dalam bumi. Ini sangat penting,” ujar Prabowo.

Baca Juga: Kementerian ATR/BPN Ungkap 11 Juta Tanah MBR Belum Bersertifikat

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News