Praktisi: Indonesia Masih Penuhi Kriteria MSCI untuk Status Emerging Markets



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Isu yang menyebut Indonesia berpotensi turun dari kategori Emerging Markets (EM) menjadi Frontier Market (FM) dinilai tidak memiliki dasar yang kuat.

Praktisi pasar modal Hans Kwee mengatakan, berdasarkan MSCI Market Classification Review yang dirilis pada Juni 2026, status Indonesia masih dipertahankan sebagai bagian dari kelompok Emerging Markets.

Baca Juga: Bach Multi (BACH) Targetkan Pendapatan Rp 3 Triliun pada Tahun 2030


"Kalau kita pelajari dokumen MSCI, sebenarnya tidak ada dasar yang kuat untuk menyebut Indonesia akan turun ke Frontier Market," ujar Hans dalam keterangannya, Rabu (8/7/2026).

Hans menjelaskan, agar tetap berada dalam kategori Emerging Markets, suatu negara harus memiliki sedikitnya tiga saham yang memenuhi kriteria MSCI, yakni dari sisi ukuran perusahaan, kapitalisasi pasar berbasis free float, serta likuiditas perdagangan.

Untuk kategori EM, persyaratan minimumnya antara lain kapitalisasi pasar perusahaan sekitar US$ 3,9 miliar, kapitalisasi pasar free float sekitar US$ 1,9 miliar, serta tingkat likuiditas minimal 15% berdasarkan Annualized Traded Value Ratio (ATVR).

Menurut Hans, saat ini terdapat sekitar 11 saham di Bursa Efek Indonesia yang telah memenuhi seluruh persyaratan tersebut.

Baca Juga: NAB Reksadana Susut, HPAM Tetap Optimistis Prospek Investasi Jangka Panjang

"Artinya, meskipun ada beberapa saham yang keluar dalam penyesuaian indeks MSCI pada Agustus 2026, jumlah saham yang memenuhi syarat masih jauh di atas batas minimum," jelasnya.

Karena itu, ia menilai kekhawatiran bahwa Indonesia akan diturunkan ke kategori Frontier Market tidak didukung oleh kondisi pasar saat ini.

Meski demikian, Hans mengakui MSCI masih mempertahankan status freeze terhadap Indonesia.

Menurutnya, hal itu lebih berkaitan dengan proses penyesuaian data pascareformasi pasar modal yang dilakukan regulator.

"MSCI kemungkinan masih menggunakan dan menyesuaikan data baru Indonesia yang kini lebih lengkap dan transparan, sehingga membutuhkan waktu untuk dianalisis lebih lanjut," katanya.

Baca Juga: Pekan Pertama Juli, Penerbitan Surat Utang Korporasi Capai Rp 10,15 Triliun

Ia menambahkan, pembaruan data, seperti penyempurnaan klasifikasi investor dan peningkatan transparansi kepemilikan saham, akan memberikan dasar analisis yang lebih komprehensif bagi MSCI pada masa mendatang.

Di sisi lain, Hans menilai sentimen terhadap pasar saham Indonesia juga mulai membaik seiring meredanya ketegangan geopolitik global.

Menurutnya, hasil negosiasi antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang diikuti pembukaan kembali Selat Hormuz telah meningkatkan pasokan minyak dunia dan mendorong penurunan harga minyak global.

Selain itu, struktur pasar minyak juga berubah dari backwardation menjadi contango, yang mencerminkan berkurangnya kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan dalam jangka pendek.

Baca Juga: BEI Buka Suara soal Watchlist S&P DJI, Siap Bahas Status Pasar Indonesia

"Sebagai net importir minyak, penurunan harga minyak akan mengurangi tekanan terhadap APBN, memperbaiki neraca perdagangan, serta menopang daya beli masyarakat," ujar Hans.

Ia menilai, kombinasi faktor domestik dan global tersebut berpotensi mengurangi tekanan terhadap pasar saham Indonesia dalam beberapa waktu ke depan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

TAG: